Gempa M6,7 Guncang Palu: Korban Jiwa, Ribuan Rumah Rusak, dan Warga Terjaga Waspada Gempa Susulan
Gempa M6,7 Guncang Palu: Korban Jiwa, Ribuan Rumah Rusak, dan Warga Terjaga Waspada Gempa Susulan

Gempa M6,7 Guncang Palu: Korban Jiwa, Ribuan Rumah Rusak, dan Warga Terjaga Waspada Gempa Susulan

LintasWarganet.com – 17 Juni 2026 | Pukul 11.27 WIB pada Selasa 16 Juni 2026, gempa tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dengan pusat gempa berjarak sekitar 42 kilometer tenggara kota dan kedalaman 10 kilometer, getaran terasa kuat hingga delapan kabupaten di provinsi tersebut. Gempa ini menimbulkan satu korban jiwa di Kabupaten Sigi serta puluhan luka ringan dan berat, sementara ribuan rumah mengalami kerusakan.

Kejadian Gempa

Episenter terletak pada koordinat 1,03 derajat lintang selatan dan 120,24 derajat bujur timur. Meskipun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada potensi tsunami, kedalaman yang relatif dangkal membuat getaran terasa intens. Warga di Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga melaporkan goncangan selama kurang lebih sepuluh detik, memaksa mereka berlarian ke luar rumah untuk menghindari bahaya.

Dampak dan Kerugian

Akibat gempa, satu warga Kabupaten Sigi meninggal dunia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 25 orang mengalami luka ringan dan 13 orang luka berat di daerah terdampak. Sekitar 110 kepala keluarga atau 312 jiwa dilaporkan terdampak secara langsung di Palu, dengan tambahan 89 kepala keluarga (272 jiwa) di Sigi.

Kerusakan bangunan cukup signifikan. Di Kabupaten Sigi, tercatat 787 rumah rusak, terdiri dari 707 rumah rusak ringan, 68 rumah rusak sedang, dan 12 rumah rusak berat. Secara keseluruhan, sementara data sementara mencatat 67 rumah terdampak di Palu, kerusakan meluas ke fasilitas ibadah, jembatan, gedung perkantoran, serta satu ruas jalan provinsi yang amblas. Berikut rincian kerusakan rumah di Sigi:

Kategori Jumlah
Rusak Ringan 707
Rusak Sedang 68
Rusak Berat 12

Selain itu, di Palu terdapat 26 unit rumah rusak ringan, enam unit rusak sedang, dan 12 unit rusak berat. Kerusakan juga terjadi pada enam fasilitas ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, dan satu jalan provinsi.

Respons Pemerintah dan Penanganan

Pemerintah Kabupaten Sigi, dipimpin oleh Bupati Moh Rizal Intjenae, segera mengadakan rapat darurat bersama kepala OPD teknis untuk koordinasi penanganan. Tim medis dari puskesmas dan RSUD Torabelo telah menanganinya. Di Rumah Sakit Samaritan Palu, pasien dievakuasi ke area parkir dan halaman untuk menghindari kerusakan gedung.

BNPB bersama BMKG terus memantau aktivitas seismik dan mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan resmi. Upaya penanggulangan meliputi pendataan korban, penyediaan tenda darurat, serta distribusi bantuan logistik.

Langkah Antisipasi bagi Warga

Mengingat trauma yang masih membekas sejak gempa dahsyat 2018, banyak warga memilih tidur di teras atau halaman rumah untuk menghindari bahaya jatuhnya benda. Selain itu, panduan penataan kamar tidur dapat membantu mengurangi risiko cedera saat gempa. Beberapa langkah praktis meliputi:

  • Meminimalkan barang yang tidak penting di dalam kamar.
  • Menempatkan tempat tidur jauh dari jendela atau menggunakan film anti pecah kaca.
  • Menjauhkan benda berat dari area kepala tempat tidur; gunakan dekorasi ringan seperti kain atau bingkai gambar kecil.
  • Mengamankan furnitur besar, seperti rak buku, dengan sekrup atau pengait khusus ke dinding.

Warga di daerah rawan gempa disarankan menyiapkan kendaraan di luar rumah, menyiapkan tas darurat berisi perlengkapan penting, serta memiliki rencana evakuasi ke tempat terbuka jika terjadi gempa susulan.

Gempa ini mengingatkan kembali pentingnya kesiapsiagaan bencana di Sulawesi Tengah. Upaya bersama antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak bila terjadi gempa susulan atau bencana alam lainnya.

Dengan koordinasi yang tepat serta kesadaran warga akan langkah-langkah keselamatan, diharapkan pemulihan dapat berlangsung lebih cepat dan meminimalkan korban jiwa serta kerusakan di masa mendatang.