Lapas Warungkiara Kelola Lahan Tidur 7 Hektar Dukung Ketahanan Pangan
Lapas Warungkiara Kelola Lahan Tidur 7 Hektar Dukung Ketahanan Pangan

Lapas Warungkiara Kelola Lahan Tidur 7 Hektar Dukung Ketahanan Pangan

LintasWarganet.com – 09 Juni 2026 | Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara di Sukabumi, Jawa Barat, memanfaatkan lahan seluas tujuh hektar yang sebelumnya tidak terpakai untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Program ini melibatkan napi serta petugas Lapas dalam menanam beragam tanaman pangan, mulai dari sayuran hingga buah-buahan.

Tujuan utama inisiatif ini adalah meningkatkan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat sekitar, sekaligus memberikan kesempatan kerja dan pelatihan pertanian bagi narapidana. Dengan mengolah lahan yang selama ini dianggap “tidur”, Lapas Warungkiara berupaya menurunkan beban impor bahan makanan serta menumbuhkan kemandirian produksi lokal.

Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan program:

  • Identifikasi lahan yang tidak produktif dan persiapan tanah, termasuk pembajakan dan pemupukan awal.
  • Pembentukan tim kerja yang terdiri dari petugas Lapas, konsultan pertanian, dan napi yang berminat.
  • Penyediaan bibit unggul serta peralatan pertanian sederhana.
  • Pelatihan teknik bercocok tanam, irigasi, dan pemeliharaan tanaman kepada napi.
  • Pemantauan rutin hasil panen dan penyaluran produk ke pasar lokal serta kantin Lapas.

Hasil awal menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan. Selama tiga bulan pertama, lahan tersebut menghasilkan lebih dari 2 ton sayuran segar, termasuk sawi, bayam, dan kangkung, serta beberapa jenis buah seperti pepaya dan pisang. Sebagian hasil panen didistribusikan ke warga sekitar melalui program sosial, sementara sisanya dipergunakan untuk konsumsi internal Lapas.

Manfaat yang dirasakan meliputi:

  • Peningkatan keterampilan dan rasa tanggung jawab narapidana.
  • Peningkatan pendapatan Lapas melalui penjualan surplus hasil pertanian.
  • Pengurangan sampah organik melalui kompos dari limbah pertanian.
  • Kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan daerah Sukabumi.

Namun, program ini juga menghadapi tantangan, seperti keterbatasan sumber daya air pada musim kemarau dan kebutuhan akan pendampingan teknis yang berkelanjutan. Pihak Lapas berkoordinasi dengan Dinas Pertanian setempat serta lembaga swadaya masyarakat untuk mengatasi hambatan tersebut.

Ke depan, Lapas Warungkiara berencana memperluas area tanam dan menambah varietas tanaman, termasuk komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti cabai dan tomat. Diharapkan, model ini dapat direplikasi oleh Lapas lain di seluruh Indonesia sebagai bagian dari upaya bersama memperkuat ketahanan pangan negara.