IHSG Terpuruk di Bawah 5.500 Poin, Investor Waspada di Tengah Tekanan Global dan Domestik
IHSG Terpuruk di Bawah 5.500 Poin, Investor Waspada di Tengah Tekanan Global dan Domestik

IHSG Terpuruk di Bawah 5.500 Poin, Investor Waspada di Tengah Tekanan Global dan Domestik

LintasWarganet.com – 08 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatat penurunan signifikan pada sesi perdagangan Senin, 8 Juni 2026. Pada pembukaan, indeks terpantau berada di level 5.486,31 dan terus meluncur hingga menembus zona merah, tercatat pada pukul 09.20 WIB sebesar 5.445,79 poin, menandakan penurunan 2,66 % dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya. Penurunan ini menambah tekanan yang sudah dirasakan sejak kemarin, ketika IHSG sempat jatuh lebih dari 4 % pada pukul 09.14 WIB, menembus level 5.372 poin.

Penurunan tajam IHSG pada pembukaan pasar

Data RTI Business menunjukkan bahwa pada pukul 08.58 WIB, IHSG sudah tertekan 1,94 % menjadi 5.486,31 poin. Selang beberapa menit, indeks kembali tertekan hingga 3,03 % pada pukul 09.03 WIB, sebelum sedikit meredup menjadi 1,78 % pada pukul 09.44 WIB. Secara keseluruhan, selama sesi pagi, nilai transaksi indeks mencapai Rp 1,92 triliun dengan volume perdagangan sekitar 2,78 miliar lembar saham yang diperdagangkan dalam 186.761 transaksi.

Faktor-faktor yang memicu koreksi

Para analis mengaitkan penurunan tajam ini dengan beberapa faktor. Pertama, tekanan eksternal dari pasar saham Asia yang secara umum mengalami penurunan, dipicu oleh kekhawatiran mengenai kebijakan moneter global dan fluktuasi nilai tukar dolar AS. Kedua, data fundamental domestik menunjukkan penurunan likuiditas di pasar uang, yang memaksa investor beralih ke instrumen yang lebih aman. Ketiga, data cadangan devisa yang baru dirilis memperlihatkan penurunan, menambah kecemasan akan kemampuan Indonesia dalam menstabilkan nilai rupiah.

Sektor dan saham terdampak

  • Sektor energi terpuruk 4,34 %.
  • Sektor basic materials melemah 5,24 %.
  • Sektor industri turun 4,37 %.
  • Indeks saham LQ45 jatuh 4,33 % ke level 533, sementara IDX30 turun 1,59 % ke 311,023.

Secara total, 595 saham tercatat melemah, hanya 56 saham yang menguat, dan 67 saham berada dalam kondisi stagnan. Frekuensi perdagangan tercatat 352.722 kali dengan nilai transaksi harian mencapai Rp 3,5 triliun, menandakan tingginya aktivitas jual beli meski mayoritas bersifat defensif.

Saham dengan potensi menguat

  • BUKK (Bukit Asam) – menunjukkan penguatan meski indeks utama turun.
  • TRIN (Trias Sentosa) – mencatat kenaikan di tengah penurunan luas pasar.
  • CTBN (Citra Tubindo) – tetap menguat berkat eksposur ke sektor energi terbarukan.
  • MPRO (Mitra Propertindo) – mendapat dukungan dari laporan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan.
  • TRUE (True Corporation) – menguat berkat ekspektasi pemulihan layanan digital.
  • TPIA (TPI Aero) – menunjukkan pergerakan positif pada perdagangan pagi.
  • SDPC (Sido Muncul) – tetap stabil meski pasar umum melemah.

Investor yang mencari peluang di tengah pasar bearish disarankan untuk memperhatikan likuiditas saham di atas, serta mempertimbangkan strategi hedging melalui instrumen derivatif atau obligasi korporasi yang memiliki rating tinggi.

Secara bulanan, IHSG telah mencatat penurunan 22,35 % dan hingga tiga bulan terakhir turun 24,57 %. Penurunan enam bulan terakhir mencapai 35,29 %, mencerminkan tren bearish yang berkelanjutan sejak pertengahan tahun 2025. Bankbank besar Indonesia juga ikut tertekan; saham BBCA turun sekitar 4 % ke level Rp 4.800, BMRI mencatat penurunan 2,60 %, BBNI 3,43 %, dan BBRI 2,55 %.

Dengan tekanan yang masih kuat dari sisi makroekonomi dan sentimen pasar global, para pelaku pasar diharapkan tetap berhati-hati. Penurunan indeks yang berkelanjutan menuntut strategi investasi yang lebih konservatif serta pemantauan ketat terhadap data ekonomi mendatang, khususnya laporan cadangan devisa, kebijakan moneter Bank Indonesia, dan perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal.