Bom Tua Meledak, Begini Sejarah Perang Dunia II di Biak
Bom Tua Meledak, Begini Sejarah Perang Dunia II di Biak

Bom Tua Meledak, Begini Sejarah Perang Dunia II di Biak

LintasWarganet.com – 01 Juni 2026 | Ledakan yang terjadi di Kepulauan Biak Numfor, Papua pada Ahad kemarin menewaskan lima warga dan menimbulkan kerusakan pada rumah‑rumah di sekitar lokasi. Menurut tim penyelamat, ledakan tersebut diperkirakan berasal dari amunisi peninggalan Perang Dunia II yang masih tersembunyi di tanah.

Korban terdiri dari tiga pria, satu wanita, dan satu anak balita. Petugas pemadam kebakaran serta tim penjinak bom segera dikerahkan untuk mengevakuasi penduduk sekitar dan mengamankan area terdampak. Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan jenis senjata apa yang meledak serta lokasi persisnya.

Biak memiliki sejarah militer yang panjang. Pada tahun 1942 pulau ini dikuasai oleh pasukan Jepang karena posisinya yang strategis di Selat Dampier. Pada tahun 1944, pasukan Sekutu, terutama Amerika Serikat dan Australia, melancarkan Operation Reckless yang berhasil merebut kembali Biak dan mengubahnya menjadi pangkalan udara serta pusat logistik penting. Selama masa pendudukan, ribuan bom, rudal, dan ranjau dikerahkan untuk pertahanan dan serangan. Setelah perang berakhir pada 1945, banyak amunisi yang tertinggal tidak sempat dibongkar atau dimusnahkan.

Sejak akhir abad ke‑20, sejumlah insiden serupa telah terjadi di wilayah Papua, Sulawesi, dan Jawa Barat, mengingat banyaknya unexploded ordnance (UXO) yang masih mengendap di tanah. Pemerintah Indonesia melalui Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) serta TNI menekankan pentingnya pembersihan secara menyeluruh, namun tantangan geografis dan biaya membuat proses tersebut berjalan lambat.

Berikut rangkaian kronologi singkat terkait Biak selama Perang Dunia II:

  • 1942: Jepang mengambil alih Biak dan membangun pangkalan udara serta pertahanan darat.
  • 1944: Operasi Reklaks (Operation Reckless) oleh Sekutu merebut Biak, mengubahnya menjadi basis penerbangan tempur dan pengeboman.
  • 1945: Perang berakhir; banyak persediaan militer ditinggalkan di pulau.
  • 1990‑2000‑an: Penemuan UXO secara sporadis di Biak, termasuk bom artileri dan rudal anti‑kapal.
  • 2024: Ledakan bom tua menewaskan lima warga, memicu seruan aksi pembersihan masif.

Pihak berwenang kini memperkuat patroli dan mempercepat proses dekontaminasi. Masyarakat diimbau untuk melaporkan penemuan benda mencurigakan dan menjauhkan diri dari area yang belum diverifikasi keamanannya.