Ketika Air Tak Lagi Punya Tempat: Tantangan Banjir dan Manajemen Air di Surabaya
Ketika Air Tak Lagi Punya Tempat: Tantangan Banjir dan Manajemen Air di Surabaya

Ketika Air Tak Lagi Punya Tempat: Tantangan Banjir dan Manajemen Air di Surabaya

LintasWarganet.com – 15 Mei 2026 | Hujan yang turun di Surabaya kerap menampilkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, curah hujan menjadi sinyal datangnya musim yang menyejukkan, namun di sisi lain, intensitas dan frekuensinya yang meningkat menimbulkan tantangan serius bagi kota yang berada di dataran rendah.

Beberapa tahun terakhir, wilayah Surabaya mencatat peningkatan volume air hujan yang tidak dapat diserap oleh sistem drainase yang ada. Akibatnya, banjir bandang sering melanda permukiman, jalan utama, dan fasilitas publik. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa curah hujan harian pada bulan-bulan hujan kini mencapai puncak tertinggi dalam satu dekade terakhir.

  • Curah hujan harian rata‑rata meningkat 20% dibandingkan periode 2000‑2010.
  • Wilayah rawan banjir meningkat dari 15% menjadi 27% dalam lima tahun terakhir.
  • Kerugian ekonomi akibat banjir diperkirakan mencapai miliaran rupiah per tahun.

Pemerintah kota telah meluncurkan serangkaian program untuk mengatasi permasalahan tersebut, antara lain memperluas jaringan saluran pembuangan, membangun waduk penampungan sementara, serta melakukan normalisasi sungai. Namun, implementasinya terkendala oleh kepadatan penduduk, penggunaan lahan yang tidak teratur, dan kurangnya partisipasi masyarakat.

Selain upaya infrastruktur, penting pula meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya menjaga lingkungan. Pembuangan sampah sembarangan ke selokan, penebangan pohon, dan pembangunan tanpa memperhatikan tata ruang memperparah risiko banjir. Edukasi mengenai pengelolaan air hujan, seperti pemanfaatan sumur resapan dan taman kota yang berfungsi sebagai area penyerapan, menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang.

Ke depan, adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi kunci. Prediksi iklim menunjukkan intensitas hujan ekstrem akan semakin sering terjadi. Oleh karena itu, integrasi antara perencanaan kota, teknologi pemantauan real‑time, dan kebijakan yang mendukung keberlanjutan harus menjadi prioritas utama bagi Surabaya.