Iran Ambil Rudal Tomahawk AS yang Gagal Meledak untuk Direplikasi Teknologinya
Iran Ambil Rudal Tomahawk AS yang Gagal Meledak untuk Direplikasi Teknologinya

Iran Ambil Rudal Tomahawk AS yang Gagal Meledak untuk Direplikasi Teknologinya

LintasWarganet.com – 14 Mei 2026 | Iran mengumumkan bahwa insinyur militer mereka sedang memanfaatkan sejumlah rudal Tomahawk buatan Amerika Serikat yang gagal meledak pada latihan militer untuk mengembangkan versi domestik yang dapat diproduksi secara massal.

Rudal Tomahawk, yang dikenal sebagai sistem senjata jelajah berjarak jauh, memiliki kemampuan menembus pertahanan udara musuh dengan presisi tinggi. Sejumlah unit rudal tersebut diketahui tidak berfungsi saat uji coba di wilayah Teluk Persia pada akhir 2023, kemudian berhasil diambil oleh pasukan khusus Iran.

Berikut ini tahapan utama yang dilaporkan dilakukan oleh tim insinyur Iran dalam proses reverse engineering:

  • Mengamankan komponen kritis, termasuk motor balistik, sistem navigasi GPS/INS, dan kepala peledak.
  • Membongkar setiap bagian untuk memetakan desain struktural serta bahan baku yang dipakai.
  • Menggunakan simulasi komputer untuk meniru perilaku aerodinamika dan lintasan terbang.
  • Mengembangkan prototipe lokal dengan menyesuaikan komponen yang dapat diproduksi di dalam negeri.
  • Melakukan uji tembak di zona latihan tertutup sebelum menilai kesiapan produksi massal.

Upaya ini menimbulkan kekhawatiran di antara analis pertahanan Amerika Serikat, yang menilai kemampuan Tehran dalam meniru teknologi canggih dapat memperluas jarak serang dan meningkatkan ancaman terhadap instalasi strategis di kawasan.

Berikut perbandingan singkat antara rudal Tomahawk asli dan versi yang diusulkan oleh Iran:

Fitur Tomahawk AS Versi Iran (perkiraan)
Jarak terbang ≈1.600 km ≈1.200 km
Kecepatan ≈880 km/jam ≈800 km/jam
Sistem pemandu GPS/INS GPS/INS (modifikasi lokal)
Berat kepala peledak 450 kg ≈400 kg

Jika berhasil, proyek ini dapat mengurangi ketergantungan Iran pada impor sistem senjata luar negeri serta membuka peluang ekspor teknologi militer ke sekutu regional. Namun, proses reverse engineering menghadapi tantangan signifikan, termasuk akses terbatas pada bahan baku khusus, hak paten, dan kemungkinan sanksi internasional yang dapat memperlambat produksi massal.

Sejumlah pakar menilai bahwa meskipun Iran dapat meniru sebagian besar komponen, integrasi sistem yang kompleks dan keandalan operasional tetap menjadi pertanyaan besar. Sementara itu, pihak berwenang Amerika Serikat telah mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan akan menindak tegas setiap upaya Iran dalam memperkuat kemampuan rudalnya.