Pram Optimistis Pengolahan Sampah di Pasar Kurangi Beban Bantargebang

LintasWarganet.com – 11 Mei 2026 | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menyatakan keyakinannya bahwa penanganan sampah langsung di pasar-pasar kota dapat menurunkan beban pengiriman ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup, rata-rata pasar tradisional di Jakarta menghasilkan sekitar 150 ton sampah per hari, yang selama ini seluruhnya diangkut ke Bantargebang.

Untuk mengurangi volume tersebut, pemerintah provinsi menginisiasi program pengolahan sampah di titik asal, yaitu pasar. Program ini meliputi tiga tahap utama:

  • Pemisahan di sumber: Pedagang dan pengunjung pasar diberikan tempat sampah terpisah untuk organik, anorganik, dan bahan berbahaya.
  • Pengolahan di lokasi: Sampah organik diproses menjadi kompos menggunakan mesin pengomposan cepat, sementara anorganik dipilah untuk daur ulang.
  • Pengangkutan selektif: Hanya sisa sampah non‑daur ulang yang dikirim ke TPST Bantargebang, mengurangi volume hingga diperkirakan 40%.

Pramono menambahkan bahwa langkah ini tidak hanya mengurangi beban logistik, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular bagi pelaku pasar. Kompos yang dihasilkan akan dijual kembali kepada petani kota, sementara bahan daur ulang dapat dimanfaatkan oleh industri lokal.

Selama fase pilot di lima pasar utama—Pasar Tanah Abang, Pasar Minggu, Pasar Senen, Pasar Pramuka, dan Pasar Blok M—terdapat peningkatan pemilahan sampah hingga 70% dibandingkan kondisi sebelumnya. Pemerintah berencana memperluas program ke seluruh pasar DKI Jakarta pada akhir tahun 2026.

Jika target pengurangan 40% tercapai, beban pengiriman ke Bantargebang diperkirakan berkurang sekitar 60 ton per hari, mengurangi kebutuhan armada truk sampah dan menurunkan emisi karbon. Pramono menegaskan bahwa keberhasilan program ini akan menjadi model bagi kota-kota lain di Indonesia dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.