Perajin tempe di Ponorogo siasati ukuran imbas kenaikan harga kedelai

LintasWarganet.com – 05 Mei 2026 | Para perajin tempe di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menghadapi tantangan baru akibat lonjakan harga kedelai impor yang terus meningkat sejak awal tahun ini. Kenaikan ini memaksa mereka menyesuaikan proses produksi agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan kualitas produk.

Untuk mengurangi beban biaya, para perajin mengambil beberapa langkah strategis:

  • Mengurangi ukuran potongan tempe standar dari 150 gram menjadi 120 gram, sehingga jumlah unit yang dapat diproduksi per kilogram kedelai meningkat.
  • Mengalihkan sebagian pembelian kedelai ke pemasok lokal yang menawarkan harga lebih stabil.
  • Menggunakan campuran kedelai dengan kacang hijau atau kacang kedelai lokal untuk menurunkan persentase kedelai impor dalam resep.
  • Menerapkan teknik fermentasi yang lebih efisien, sehingga waktu produksi dapat dipersingkat dan energi listrik yang dibutuhkan berkurang.

Langkah-langkah tersebut terbukti menurunkan biaya produksi rata-rata sekitar 12%, menurut survei yang dilakukan oleh Koperasi Produsen Tempe Ponorogo. Meskipun ukuran tempe menjadi lebih kecil, para konsumen belum menunjukkan penurunan signifikan dalam permintaan, karena rasa dan tekstur tetap terjaga.

Namun, tidak semua perajin mampu beradaptasi dengan cepat. Usaha mikro yang belum memiliki akses ke pemasok lokal atau modal untuk investasi peralatan fermentasi modern melaporkan penurunan penjualan hingga 18%.

Pemerintah daerah Ponorogo menanggapi situasi ini dengan membuka forum dialog antara perajin, pedagang kedelai, dan dinas pertanian. Program subsidi kedelai lokal dan pelatihan teknik produksi efisien dijadwalkan mulai kuartal ketiga 2024.

Dengan kebijakan dukungan dan inovasi produksi yang terus berkembang, para perajin tempe di Ponorogo berharap dapat menstabilkan harga jual tempe di pasar lokal, sekaligus menjaga kelangsungan usaha di tengah fluktuasi harga bahan baku nasional.