Saat kota belajar mendengar anaknya

LintasWarganet.com – 25 April 2026 | Di sebuah sudut kota yang tak pernah tidur, sekelompok remaja berkumpul di depan warung kopi sederhana. Mereka menghabiskan waktu dengan tawa, namun diskusi mereka tidak sekadar bersenang‑senang. Kegiatan ini merupakan bagian dari program baru pemerintah kota yang berupaya mengintegrasikan suara anak muda dalam perencanaan ruang publik.

Program “Suara Anak Kota” diluncurkan tiga bulan lalu dengan tujuan utama mendengarkan aspirasi anak‑anak usia 12‑18 tahun mengenai fasilitas umum, keamanan, dan lingkungan belajar. Tim perencana kota bersama LSM sosial mengadakan serangkaian lokakarya di titik‑titik strategis, termasuk kedai kopi, taman, dan pusat komunitas.

Berikut langkah‑langkah utama yang diimplementasikan:

  • Pengumpulan data melalui sesi curah pendapat terbuka selama dua jam tiap minggu.
  • Penyusunan peta kebutuhan berdasarkan masukan remaja, seperti penambahan area hijau, penerangan jalan, dan ruang bermain kreatif.
  • Presentasi hasil ke dewan kota dan pelibatan media lokal untuk memperluas jangkauan.
  • Penerapan pilot project di tiga kawasan yang dipilih, dengan evaluasi bulanan.

Hasil awal menunjukkan peningkatan kepuasan warga muda. Salah satu peserta, Raka (16 tahun), mengungkapkan, “Saya merasa kota ini benar‑benar mendengar apa yang kami butuhkan. Lampu jalan yang lebih terang dan tempat duduk yang aman membuat kami lebih nyaman beraktivitas di malam hari.”

Selain memperbaiki infrastruktur, inisiatif ini juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial di kalangan remaja. Mereka dilatih menjadi fasilitator bagi generasi yang lebih muda, sehingga dialog antar‑generasi menjadi lebih terbuka.

Pemerintah kota menargetkan bahwa dalam satu tahun ke depan, setidaknya 70 % area publik akan menampilkan elemen yang diusulkan oleh anak‑anak. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di kota‑kota lain di seluruh negeri.