Hampir Sebulan Kritis, Kopral Rico Pramudia Meninggal Dunia Pasca Serangan Israel di Lebanon Selatan

LintasWarganet.com – 24 April 2026 | Kopral Rico Pramudia, anggota Korps Infanteri TNI yang bertugas dalam misi penjagaan perbatasan di Lebanon Selatan, resmi dinyatakan meninggal dunia pada hari ini setelah hampir sebulan berada dalam kondisi kritis.

Insiden yang menimpa Pramudia terjadi pada akhir Maret 2024 ketika sebuah serangan udara Israel menghantam wilayah selatan Lebanon. Ledakan yang diakibatkan oleh bom tersebut menewaskan beberapa warga sipil dan melukai sejumlah personel militer, termasuk Rico yang mengalami luka berat pada kepala dan toraks.

Setelah serangan, Rico segera dievakuasi ke rumah sakit militer terdekat di wilayah tersebut. Dokter menyatakan ia berada dalam kondisi kritis dengan risiko komplikasi neurologis tinggi. Selama hampir empat belas hari, tim medis berupaya keras menstabilkan kondisi korban, namun komplikasi yang muncul membuat prognosisnya semakin suram.

  • 27 Maret 2024: Serangan udara Israel melanda daerah perbatasan Lebanon Selatan.
  • 28 Maret 2024: Rico Pramudia dievakuasi ke RSAB TNI, dimasukkan ke unit perawatan intensif.
  • 10 April 2024: Kondisi tetap kritis, keluarga diberikan informasi terkini.
  • 24 April 2024: Rico dinyatakan meninggal dunia akibat luka-luka yang tak dapat diatasi.

Pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa kematian Rico merupakan kehilangan besar bagi TNI. Menteri Pertahanan menambahkan, “Kami berduka atas kepergian Kopral Rico Pramudia, pahlawan yang berjuang demi perdamaian di wilayah rawan konflik. Kami akan memberikan penghormatan tertinggi dan mendukung keluarga yang ditinggalkannya.”

Keluarga Pramudia, yang berada di Indonesia, menyampaikan rasa terima kasih kepada rekan-rekan se-misi dan pemerintah atas dukungan moral serta bantuan logistik selama masa perawatan. Mereka juga berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi upaya perlindungan lebih baik terhadap personel TNI di daerah konflik.

Kasus ini menyoroti tantangan yang dihadapi pasukan perdamaian Indonesia dalam menjalankan tugas di zona perang, terutama ketika situasi geopolitik regional semakin memanas. Pemerintah diperkirakan akan meninjau kembali prosedur evakuasi medis serta perlengkapan perlindungan bagi personel yang ditempatkan di luar negeri.