Krisis BBM Akibat Perang di Timur Tengah, TNI AL Sesuaikan Mesin Kapal Perang agar Bisa Gunakan Bahan Bakar B35 dan B50

LintasWarganet.com – 16 April 2026 | Perang yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah sejak awal tahun ini telah mengganggu pasokan minyak mentah global, memicu lonjakan harga dan kelangkaan bahan bakar di banyak negara, termasuk Indonesia. Pemerintah sekaligus sektor transportasi militer merasakan tekanan berat untuk memastikan ketersediaan bahan bakar yang cukup demi kelancaran operasional.

Menanggapi situasi tersebut, TNI Angkatan Laut (TNI AL) mengumumkan rencana penyesuaian mesin kapal perang agar dapat beroperasi dengan bahan bakar beroktan lebih rendah, yakni B35 dan B50. Penyesuaian ini diharapkan dapat memperluas pilihan bahan bakar yang tersedia, mengurangi ketergantungan pada B92 dan B95 yang kini lebih sulit dipasok.

  • Penggantian atau modifikasi injektor bahan bakar untuk menyesuaikan rasio pencampuran.
  • Kalibrasi ulang sistem kontrol mesin (ECU) agar dapat mengoptimalkan pembakaran pada oktan B35/B50.
  • Pengecekan ulang sistem pelumasan untuk mencegah keausan akibat bahan bakar dengan kualitas lebih rendah.
  • Uji coba lapangan selama tiga bulan dengan melibatkan tiga kapal kelas fregat dan satu kapal patroli.

Berikut ini perbandingan singkat antara jenis bahan bakar yang biasanya dipakai oleh armada TNI AL dengan bahan bakar alternatif yang akan diujicobakan:

Jenis Bahan Bakar Oktan Ketersediaan di Indonesia
B92 92 Umum, tetapi menurun drastis
B95 95 Terbatas, harga naik
B35 35 Melimpah, biasanya untuk kendaraan ringan
B50 50 Melimpah, tersedia di SPBU utama

Pejabat TNI AL, Letnan Kolonel (Mar) Ahmad Rizal, menyatakan bahwa proses modifikasi tidak akan mengurangi performa kapal secara signifikan. “Kami melakukan penyesuaian pada sistem injeksi dan kontrol mesin sehingga mesin tetap dapat beroperasi dengan efisiensi yang dapat diterima, meski menggunakan bahan bakar beroktan lebih rendah,” ujarnya.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengoptimalkan penggunaan bahan bakar domestik dan mengurangi tekanan impor minyak. Selain itu, adaptasi mesin ini diharapkan dapat menjadi model bagi angkatan darat dan udara dalam mengatasi krisis energi serupa.

Jika uji coba berhasil, TNI AL berencana memperluas implementasi pada semua kapal perang kelas utama dalam waktu enam bulan ke depan, sekaligus menyusun prosedur pemeliharaan khusus untuk bahan bakar B35 dan B50.