Semeru Erupsi Lima Kali, Ketinggian Letusan Capai 1.200 Meter

LintasWarganet.com – 16 April 2026 | Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada pekan ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta tim pengamat gunung berapi mencatat total lima kali letusan dalam rentang waktu 24 jam, dengan puncak ketinggian abu dan awan panas mencapai 1.200 meter di atas puncak gunung.

Rangkaian letusan dimulai pada pukul 03.15 WIB dengan semburan awan panas yang meluncur turun ke lereng selatan, diikuti oleh ledakan dahsyat pada pukul 07.40 WIB yang menghasilkan kolom abu setinggi 1.200 meter. Letusan berikutnya terjadi pada pukul 12.05, 16.30, dan 21.45 WIB, masing‑masing menimbulkan awan abu yang menyebar hingga ke daerah‑daerah sekitar, termasuk kota Malang, Kediri, dan Surabaya.

Berikut adalah rangkuman utama dari kejadian tersebut:

  • Jumlah letusan: Lima kali dalam 24 jam.
  • Ketinggian maksimum kolom abu: 1.200 meter.
  • Area terdampak: Kabupaten Lumajang, Malang, Kediri, dan sebagian wilayah Surabaya.
  • Evakuasi: Lebih dari 1.800 warga dipindahkan ke tempat penampungan sementara.
  • Laporan kerusakan: Kerusakan pada atap rumah, penutup jalan, serta gangguan penerbangan di bandara Internasional Juanda.

Pihak berwenang segera mengambil langkah mitigasi. Tim SAR dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan posko pengungsian di beberapa kecamatan, sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meningkatkan status bahaya gunung berapi menjadi Level III (Waspada). Selain itu, jalur evakuasi utama dibuka dan distribusi masker serta pakaian pelindung disalurkan kepada warga yang berada di zona merah.

Para ahli vulkanologi menekankan bahwa pola letusan berulang dalam waktu singkat mengindikasikan tekanan magma yang masih tinggi di dalam sistem gunung. Mereka menyarankan masyarakat untuk selalu mengikuti informasi resmi, menghindari area larangan, dan menyiapkan rencana darurat, termasuk menutup ventilasi rumah, menutup kendaraan, serta menutup jendela untuk mengurangi masuknya abu.

Sejak letusan terakhir pada tahun 2022, Semeru telah mengalami beberapa fase peningkatan aktivitas, namun ketinggian kolom abu 1.200 meter merupakan salah satu yang tertinggi dalam dekade terakhir. Pemerintah daerah dan pusat terus memantau kondisi secara real‑time menggunakan sensor seismik dan satelit, serta melakukan survei lapangan secara berkala untuk menilai potensi bahaya lanjutan.

Warga diharapkan tetap tenang, mengikuti arahan resmi, dan melaporkan setiap kejadian anomali kepada petugas terdekat. Dengan koordinasi yang baik antara lembaga pemerintah, tim penanggulangan bencana, serta partisipasi masyarakat, diharapkan dampak dari aktivitas Semeru dapat diminimalisir.