Mengapa Dua Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Sementara Malaysia Bisa Lewat Tanpa Tarif?
Mengapa Dua Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Sementara Malaysia Bisa Lewat Tanpa Tarif?

Mengapa Dua Kapal Tanker Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Sementara Malaysia Bisa Lewat Tanpa Tarif?

LintasWarganet.com – 10 April 2026 | PT Pertamina (Persero) masih berjuang agar dua kapal tanker miliknya, VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz setelah terjebak selama lebih dari satu bulan. Kendala yang dihadapi tidak hanya bersifat diplomatik, melainkan melibatkan sejumlah masalah teknis yang belum terselesaikan, sementara negara‑negara lain seperti Malaysia dikabarkan dapat melintasi selat tersebut tanpa dikenakan tarif.

Proses Negosiasi dan Koordinasi Diplomatik

Menurut pernyataan wakil perusahaan, Muhammad Baron, dan juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Vahd Nabyl Achmad Mulachela, Pertamina terus melakukan koordinasi intensif dengan Kemlu untuk membuka jalur diplomatik dengan otoritas Iran. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran serta Menteri Luar Negeri Sugiono telah melakukan pertemuan dengan pejabat Iran, termasuk Duta Besar Iran di Jakarta, guna mencari solusi. Pihak Iran sendiri memberikan sinyal positif, namun belum ada konfirmasi resmi yang memungkinkan kapal-kapal tersebut bergerak.

Masalah Teknis yang Menjadi Penghalang

Juru bicara Kemlu menegaskan bahwa kendala utama bersifat teknis, meliputi aspek asuransi, kesiapan kru, dan persyaratan keamanan pelayaran. Ia menolak mengungkap detail lebih lanjut, menyebut bahwa Pertamina lebih memahami seluk‑beluk teknis tersebut. Dalam konteks ini, asuransi kapal menjadi kritikal karena risiko serangan atau insiden di wilayah yang masih tegang setelah eskalasi antara Amerika Serikat‑Israel dengan Iran.

Selain asuransi, kesiapan kru juga menjadi fokus. Kedua kapal berada di Teluk Arab dan harus memastikan bahwa awak kapal dilengkapi dengan protokol keamanan terbaru, termasuk pelatihan anti‑piracy dan koordinasi dengan Angkatan Laut Iran. Persyaratan tambahan mencakup verifikasi dokumen muatan, yang dalam kasus Pertamina Pride melibatkan minyak mentah untuk kebutuhan domestik.

Perbandingan dengan Kapal Malaysia

Menariknya, pada 7 April 2026 Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengumumkan melalui platform X bahwa Iran telah memperbolehkan kapal Malaysia melintasi Selat Hormuz tanpa dikenakan tarif. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa Indonesia belum mendapatkan perlakuan serupa.

Beberapa faktor dapat menjelaskan perbedaan tersebut:

  • Hubungan Bilateral: Malaysia memiliki hubungan diplomatik yang relatif stabil dengan Iran, termasuk kerja sama di bidang energi dan perdagangan, yang dapat memperlancar persetujuan.
  • Posisi Politik: Indonesia, meski netral, terlibat dalam upaya mediasi antara Amerika Serikat dan Iran, yang mungkin menambah kompleksitas negosiasi.
  • Persyaratan Teknis: Kapal Malaysia mungkin telah memenuhi standar asuransi dan kesiapan kru yang diminta Iran, sedangkan Pertamina masih menyesuaikan prosedur internal.

Lalu Lintas di Selat Hormuz Pasca Gencatan Senjata

Data pelacakan maritim menunjukkan bahwa sejak gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April 2026, hanya sekitar sepuluh kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz, termasuk empat tanker. Sebagian besar kapal tersebut berasal dari Iran atau negara yang dianggap bersahabat. Kondisi ini memperkuat persepsi bahwa akses ke selat masih sangat terbatas.

Iran dilaporkan mempertimbangkan penerapan biaya transit, meski nominalnya sangat kecil (sekitar satu dolar AS per barel), dan bahkan menyebutkan kemungkinan pembayaran dalam mata uang kripto. Kebijakan tersebut, bila diterapkan, dapat menambah beban bagi perusahaan pelayaran yang belum menyesuaikan sistem pembayaran.

Dampak Terhadap Pasokan Energi Nasional

Keterlambatan melintasi Selat Hormuz berpotensi memengaruhi pasokan minyak mentah dalam negeri. Pertamina menyatakan bahwa salah satu kapal yang tertahan mengangkut minyak mentah untuk kebutuhan nasional. Jika kedua kapal tidak segera dilepas, Pertamina harus mengandalkan sumber alternatif, termasuk pengadaan lewat jalur darat atau pelabuhan lain yang memiliki biaya logistik lebih tinggi.

Langkah Selanjutnya

Para pejabat Pertamina menekankan pentingnya dukungan publik dan doa, sambil terus memantau perkembangan harian bersama Kemlu. Mereka berharap masalah teknis dapat diselesaikan dalam waktu singkat, terutama terkait asuransi dan persiapan kru, sehingga kapal dapat melanjutkan pelayaran ke pelabuhan tujuan.

Secara keseluruhan, situasi menuntut sinergi antara diplomasi, regulasi teknis, dan keamanan maritim. Hingga semua aspek tersebut terpenuhi, dua kapal tanker Pertamina kemungkinan besar akan tetap berada di Teluk Arab, sementara kapal Malaysia sudah dapat melintasi selat tanpa beban tarif.