Siap Hadapi El Nino 2026: Dosen UGM Dorong Tindakan Berkelanjutan untuk Cegah Karhutla
Siap Hadapi El Nino 2026: Dosen UGM Dorong Tindakan Berkelanjutan untuk Cegah Karhutla

Siap Hadapi El Nino 2026: Dosen UGM Dorong Tindakan Berkelanjutan untuk Cegah Karhutla

LintasWarganet.com – 08 April 2026 | Musim kemarau yang datang lebih cepat dan lebih panjang pada tahun 2026 menimbulkan kekhawatiran serius tentang potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh Indonesia. Dengan fenomena El Nino yang diprediksi menguat pada paruh kedua tahun ini, pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan dunia akademik bersatu dalam upaya mencegah bencana lingkungan yang dapat merusak ekosistem serta mengancam kesehatan masyarakat.

Ancaman El Nino dan Kemarau Panjang

Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi El Nino‑Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase netral namun berpotensi beralih menjadi El Nino pada semester kedua 2026. Prediksi menunjukkan musim kemarau akan dimulai sejak April, memuncak pada Agustus, dan berakhir pada Oktober. Hujan rata‑rata diperkirakan berada di bawah normal, menurunkan kelembapan tanah secara signifikan. Pada akhir Maret, 7 % zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau, dan angka ini diproyeksikan meningkat tajam pada bulan April‑Juni.

Langkah Pemerintah: Water Bombing dan Patroli Udara

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengaktifkan program “water bombing” dengan menyiapkan setidaknya 16 helikopter khusus pemadam kebakaran dan 12 helikopter patroli. Unit‑unit ini akan dikerahkan di wilayah rawan seperti Jambi, Sulawesi Selatan, Pekanbaru, serta beberapa provinsi di Kalimantan. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilaksanakan untuk menurunkan suhu udara di area kritis. Penambahan armada akan dipertimbangkan jika intensitas kebakaran terus meningkat.

Inisiatif Akademik: Peran Dosen UGM

Di Yogyakarta, dosen Fakultas Teknologi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Rina Widyastuti, memimpin kelompok riset yang fokus pada mitigasi karhutla berbasis pendekatan berkelanjutan. Timnya mengembangkan tiga pilar utama:

  • Penguatan kapasitas masyarakat: Pelatihan pencegahan kebakaran bagi petani, nelayan, dan penduduk desa menggunakan metode “Fire‑Smart Community”.
  • Penggunaan teknologi satelit dan drone: Pemantauan hotspot secara real‑time sehingga otoritas dapat merespons lebih cepat.
  • Restorasi lahan kritis: Penanaman kembali pohon keras dan rumput alami yang dapat menahan panas serta mengurangi akumulasi bahan bakar alami.

Dr. Rina menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektoral antara pemerintah, lembaga riset, dan komunitas lokal. “Tanpa dukungan dari warga, teknologi saja tidak cukup. Kami mengajak mereka menjadi bagian aktif dalam menjaga hutan,” ujarnya dalam seminar kebijakan lingkungan pada akhir Maret.

Data Karhutla 2026: Tren Meningkat

Analisis citra satelit menunjukkan total lahan terbakar selama Januari‑Februari 2026 mencapai 32.637 hektar. Provinsi dengan luas kebakaran tertinggi meliputi Kalimantan Barat (10.601 ha), Riau (4.440 ha), dan Sulawesi Tengah (3.797 ha). Website Sipongi mencatat 702 hotspot pada periode 1 Januari‑5 April 2026, meningkat tajam dibandingkan 125 hotspot pada periode yang sama tahun 2025. Proyeksi area terbakar pada Maret 2026 mencapai 10.175 hektar, dengan Riau menyumbang hampir 87 % total wilayah tersebut.

Strategi Berkelanjutan ke Depan

Gabungan upaya pemerintah dan akademisi menandai perubahan paradigma dalam penanggulangan karhutla. Beberapa langkah strategis yang diusulkan meliputi:

  1. Peningkatan alokasi anggaran untuk helikopter water bombing dan peralatan pemantauan udara.
  2. Implementasi sistem peringatan dini berbasis AI yang mengintegrasikan data satelit, cuaca, dan laporan lapangan.
  3. Pengembangan program insentif bagi petani yang mengadopsi praktik pertanian ramah iklim, seperti agroforestry.
  4. Peningkatan edukasi lingkungan di sekolah menengah dengan modul khusus tentang pencegahan kebakaran.
  5. Kolaborasi internasional untuk transfer teknologi mitigasi kebakaran, terutama dengan negara yang berpengalaman menghadapi El Nino.

Dengan koordinasi yang lebih erat antara BNPB, BMKG, Kementerian Kehutanan, dan institusi akademik seperti UGM, harapan untuk menurunkan angka kebakaran pada musim kemarau 2026 menjadi lebih realistis. Upaya berkelanjutan yang menggabungkan teknologi, kebijakan, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga hutan Indonesia tetap lestari.

Kesimpulannya, ancaman El Nino 2026 menuntut respons cepat dan terintegrasi. Dukungan helikopter water bombing, pemantauan satelit, serta inovasi akademik yang dipimpin oleh dosen UGM memberikan fondasi kuat untuk mengurangi risiko karhutla dan melindungi kehidupan serta ekonomi masyarakat Indonesia.