IFF Tegaskan Komitmen Pengelolaan Risiko Iklim dalam Investasi Infrastruktur
IFF Tegaskan Komitmen Pengelolaan Risiko Iklim dalam Investasi Infrastruktur

IFF Tegaskan Komitmen Pengelolaan Risiko Iklim dalam Investasi Infrastruktur

LintasWarganet.com – 07 April 2026 | Direktur Utama PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), Rizki Pribadi Hasan, menegaskan bahwa perusahaan kini memfokuskan strategi pada pengelolaan risiko iklim sebagai bagian integral dari proses penilaian proyek infrastruktur.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada tanggal 7 Mei 2024, Hasan menjelaskan bahwa perubahan iklim menimbulkan tantangan baru bagi sektor infrastruktur, mulai dari peningkatan frekuensi bencana alam hingga volatilitas regulasi lingkungan. Oleh karena itu, IIF berkomitmen untuk menilai dampak iklim secara menyeluruh sebelum menyalurkan dana.

Beberapa langkah konkret yang diungkapkan meliputi:

  • Penerapan kerangka kerja analisis risiko iklim berbasis standar internasional, seperti Task Force on Climate‑Related Financial Disclosures (TCFD).
  • Integrasi penilaian risiko iklim ke dalam proses due diligence proyek, termasuk simulasi skenario suhu dan curah hujan ekstrem.
  • Peningkatan kapasitas tim internal melalui pelatihan khusus dan kolaborasi dengan lembaga riset iklim.
  • Penerapan kebijakan pembiayaan berkelanjutan yang memberikan preferensi tarif kepada proyek dengan mitigasi risiko iklim yang kuat.

Hasan menambahkan bahwa pendekatan ini tidak hanya melindungi portofolio IIF dari potensi kerugian, tetapi juga mendukung agenda nasional Indonesia dalam mencapai target net‑zero emissions pada 2060. Ia menekankan pentingnya sinergi antara sektor keuangan, pemerintah, dan pelaku industri untuk menciptakan ekosistem investasi yang tahan iklim.

Selain itu, IIF berencana memperluas portofolio investasi ke proyek energi terbarukan, transportasi rendah emisi, dan infrastruktur berbasis alam. Dengan menempatkan risiko iklim sebagai faktor utama dalam keputusan investasi, perusahaan berharap dapat menarik lebih banyak investor institusional yang semakin mengutamakan kriteria ESG.

Penguatan tata kelola risiko iklim ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi lembaga keuangan lain di Indonesia, mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang lebih resilient.