Pahlawan Tanpa Nama: Praka Farizal Naik Pangkat Pasca Gugur di Lebanon, Negara Hiasi Pemakaman Pahlawan
Pahlawan Tanpa Nama: Praka Farizal Naik Pangkat Pasca Gugur di Lebanon, Negara Hiasi Pemakaman Pahlawan

Pahlawan Tanpa Nama: Praka Farizal Naik Pangkat Pasca Gugur di Lebanon, Negara Hiasi Pemakaman Pahlawan

LintasWarganet.com – 06 April 2026 | Praka Farizal Rhomadhon, seorang prajurit TNI dari Brigade Infanteri 25/Siwah Kodam Iskandar Muda, gugur dalam misi perdamaian PBB di Lebanon pada 29 Maret 2026. Kejadian itu menimbulkan gelombang duka di seluruh Indonesia, terutama di kampung halamannya, Kulon Progo, Yogyakarta. Pemerintah kemudian memberikan penghormatan khusus berupa kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) dari Praka menjadi Kopral Dua (Kopda) serta hak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giripeni.

Latar Belakang Penugasan

Praka Farizal merupakan anggota Brigade Infanteri 25/Siwah yang ditugaskan dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Sebagai bagian dari pasukan penjaga perdamaian, ia bertugas melindungi zona gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah. Penugasan ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk berkontribusi pada keamanan regional dan menjaga stabilitas di Timur Tengah.

Kejadian Tragis di Adchit Al Qusayr

Pada Minggu, 29 Maret 2026, saat melaksanakan salat Isya di sebuah masjid dekat pos UNIFIL di Adchit Al Qusayr, Lebanon, sebuah mortir yang diyakini diluncurkan oleh pasukan Israel menghantam area sekitar tempat ibadah. Mortir tersebut menimbulkan ledakan dahsyat yang menewaskan Praka Farizal secara langsung. Dua prajurit TNI lainnya juga tewas dalam insiden terpisah pada hari yang sama, namun jenazah mereka dipulangkan bersama jenazah Praka Farizal.

Penghormatan Negara

Setelah kejadian, Panglima TNI mengeluarkan dua keputusan penting. Pertama, Praka Farizal dianugerahi kenaikan pangkat luar biasa menjadi Kopral Dua (Kopda) sebagai penghargaan atas pengorbanannya. Kedua, ia diberikan hak istimewa untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giripeni, Wates, Kulon Progo, sebuah penghormatan yang biasanya diberikan kepada pahlawan nasional yang telah berjasa bagi negara.

Keputusan ini disampaikan oleh Kolonel (Inf) Dimar Bahtera, Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah, yang menegaskan bahwa penghormatan tersebut tidak bersifat memaksa. “Kami mengimbau keluarga untuk mempertimbangkan pemakaman di TMP demi kehormatan dan simbol negara, namun keputusan akhir tetap berada di tangan keluarga,” ujarnya saat kunjungan ke rumah duka pada 2 April 2026.

Upacara Pemakaman

Pemakaman dilaksanakan pada 5 April 2026 di TMP Giripeni dengan prosesi militer yang diiringi tembakan salvo. Jenazah tiba sekitar pukul 08.57 WIB, dibawa oleh ambulans bersama keluarga almarhum, anggota TNI, serta pejabat militer termasuk Letjen TNI Candra Wijaya, Asisten Kebijakan Strategis dan Perencanaan Umum Panglima TNI. Bendera setengah tiang dikibarkan di area makam, menandakan duka nasional.

Ratusan warga, termasuk pelayat dari sekitar Kulon Progo, berdiri di luar pagar TMP, menyaksikan proses pemakaman dengan rasa hormat yang mendalam. Istri dan ibu almarhum terlihat lemah, namun tetap berada di sisi jenazah sebagai simbol dukungan keluarga.

Reaksi Keluarga dan Masyarakat

Keluarga Praka Farizal, terutama istri dan anaknya yang masih kecil, menerima dukungan moral dan materi dari pemerintah serta masyarakat luas. Pemerintah daerah Yogyakarta serta Polda DIY memberikan bantuan serta memastikan bahwa proses pemakaman berjalan lancar.

Di media sosial, banyak netizen yang mengirimkan ucapan belasungkawa dan menuntut agar tragedi serupa tidak terulang kembali. Sekjen PBB António Guterres juga mengutuk keras insiden tersebut, menegaskan pentingnya perlindungan bagi penjaga perdamaian di zona konflik.

Secara keseluruhan, kematian Praka Farizal menegaskan risiko tinggi yang dihadapi para pasukan perdamaian. Penghormatan negara melalui kenaikan pangkat dan pemakaman di TMP menjadi simbol apresiasi atas pengorbanan yang tak ternilai.

Dengan berakhirnya upacara pemakaman, keluarga almarhum tetap melanjutkan hidup mereka dengan beban kehilangan yang mendalam, namun diiringi dengan rasa bangga karena sang suami dan ayah telah menjadi pahlawan yang dihormati secara nasional.