Wamen LH ajak masyarakat gunakan biopori untuk tekan potensi banjir
Wamen LH ajak masyarakat gunakan biopori untuk tekan potensi banjir

Wamen LH ajak masyarakat gunakan biopori untuk tekan potensi banjir

LintasWarganet.com – 06 April 2026 | Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, menyerukan partisipasi aktif warga dalam upaya menekan potensi banjir dengan memanfaatkan teknologi biopori. Seruan tersebut disampaikan dalam acara yang diadakan di kantor Kementerian Lingkungan Hidup pada hari Senin, 1 April 2024.

Biopori adalah lubang resapan yang dibuat secara bertahap di area permukiman atau ruang terbuka hijau untuk menampung air hujan, mengurangi limpasan permukaan, dan meningkatkan infiltrasi ke dalam tanah. Dengan memperbanyak titik resapan, diharapkan volume air yang mengalir ke sungai dan drainase dapat berkurang secara signifikan.

Diaz menekankan tiga poin utama:

  • Kesadaran kolektif: Setiap warga, baik perorangan maupun kelompok, diharapkan memahami manfaat biopori dan berkomitmen untuk membuatnya di pekarangan masing‑masing.
  • Penerapan standar teknis: Kedalaman minimal 2,5 meter, lebar 1 meter, dan penggunaan material yang ramah lingkungan seperti batu kali atau pasir berpasir.
  • Kolaborasi lintas sektor: Pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan perusahaan dapat menyumbang dana atau tenaga dalam pengerjaan biopori.

Berikut langkah‑langkah praktis yang disarankan untuk membuat biopori:

  1. Tentukan lokasi yang tidak mengganggu fondasi bangunan dan berada di area yang rawan genangan.
  2. Gali lubang dengan dimensi yang telah ditetapkan, kemudian beri lapisan kerikil di dasar untuk mempercepat aliran air.
  3. Isi kembali lubang dengan tanah berpasir, ratakan permukaan, dan tutup dengan rumput atau vegetasi penahan erosi.
  4. Lakukan perawatan berkala, seperti membersihkan sampah yang masuk dan menanam kembali tanaman penutup bila diperlukan.

Pemerintah Kementerian Lingkungan Hidup telah menyiapkan paket bantuan teknis dan materi pelatihan bagi komunitas yang ingin mengimplementasikan biopori. Bantuan tersebut meliputi panduan cetak, video tutorial, serta pendampingan lapangan oleh tim ahli.

Dengan mengintegrasikan biopori ke dalam tata ruang perkotaan, diharapkan tidak hanya mengurangi risiko banjir, tetapi juga meningkatkan kualitas air tanah, menurunkan suhu lingkungan, serta menambah ruang hijau yang dapat menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati.

Diaz menutup pidatonya dengan harapan bahwa semangat gotong‑royong akan menjadikan biopori sebagai solusi jangka panjang dalam menghadapi perubahan iklim dan intensitas hujan ekstrem yang semakin sering terjadi.