Bentrok Pemuda di Halmahera Tengah: Satu Meninggal, Puluhan Rumah Dibakar, Aparat Gabungan TNI-Polri Turun Tangan
Bentrok Pemuda di Halmahera Tengah: Satu Meninggal, Puluhan Rumah Dibakar, Aparat Gabungan TNI-Polri Turun Tangan

Bentrok Pemuda di Halmahera Tengah: Satu Meninggal, Puluhan Rumah Dibakar, Aparat Gabungan TNI-Polri Turun Tangan

LintasWarganet.com – 04 April 2026 | Insiden bentrokan antar pemuda di dua desa, Banemo dan Sibenpopo, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, mengakibatkan satu korban tewas dan sejumlah rumah dibakar pada Jumat, 3 April 2026. Konflik bermula setelah penemuan jenazah seorang warga di kebun yang berada di wilayah Desa Sibenpopo, memicu kemarahan warga Desa Banemo.

Latar Belakang

Desa Banemo dan Sibenpopo telah lama mengalami ketegangan sosial, namun memuncak pada pagi hari ketika sekelompok warga menemukan mayat di area pertanian. Penemuan tersebut menimbulkan spekulasi dan kecurigaan di antara warga, yang kemudian berujung pada aksi penyerangan menggunakan senjata tajam.

Kronologi Kejadian

Menurut keterangan Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Maluku Utara, Brigjen Stephen M. Napiun, pada pukul 07.30 WIB sekelompok warga Banemo mendatangi Sibenpopo dan melakukan serangan. Bentrokan meluas menjadi pertarungan bersenjata tajam, termasuk pisau dan alat tajam lainnya. Selama aksi tersebut, satu warga Sibenpopo tewas akibat luka berat, sementara beberapa rumah warga dibakar secara sengaja.

Petugas lapangan mencatat bahwa api melalap tiga rumah tradisional, menyebabkan kerusakan material yang signifikan. Meskipun demikian, tidak ada laporan kerusakan infrastruktur publik yang luas.

Setelah kejadian, aparat keamanan segera melakukan evakuasi warga yang berada di zona rawan, serta mengevakuasi korban yang terluka ke rumah sakit terdekat di Ternate.

Respons Aparat Keamanan

Kapolri Maluku Utara, Irjen Pol. Waris Agono, melalui pernyataan telepon mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi di media sosial. Ia menekankan pentingnya menahan diri dari penyebaran foto atau video yang dapat memperkeruh situasi.

Secara bersamaan, Kapolda bersama Wakapolda menurunkan tim gabungan TNIPolri berjumlah sekitar 250 personel, termasuk satuan Brimob dan Direktorat Samapta, untuk mengamankan wilayah dan mencegah penyebaran konflik ke daerah sekitar. Penempatan pasukan ini berhasil menstabilkan situasi pada sore hari.

Upaya Perdamaian dan Rekonsiliasi

Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, bersama Wakapolda dan Danrem 152/Baabullah, melakukan perjalanan ke Halmahera Tengah pada sore hari yang sama. Mereka bertemu dengan tokoh agama, tokoh adat, serta tokoh masyarakat setempat untuk membuka dialog damai. Dalam pertemuan tersebut, semua pihak sepakat untuk menahan diri, menolak provokasi, serta mengedepankan proses rekonsiliasi yang melibatkan mediasi adat.

Sarbin menegaskan, “Kita semua bersaudara, mari jaga perdamaian.” Ia menambahkan bahwa pemerintah provinsi akan menyediakan bantuan sosial bagi keluarga korban serta membantu proses pemulihan rumah yang terbakar.

Reaksi Masyarakat

Warga setempat mengaku masih khawatir akan potensi kekerasan lanjutan, namun sebagian besar menyambut positif langkah aparat dan tokoh agama yang berusaha menengahi. Beberapa warga menyoroti pentingnya penyebaran informasi yang akurat, mengingat rumor cepat menyebar melalui platform digital.

Di sisi lain, para korban keluarga yang kehilangan anggota dan rumah menuntut penyelidikan menyeluruh untuk mengidentifikasi pelaku serta penyebab utama konflik.

Dengan penurunan intensitas bentrokan, pihak berwenang menegaskan bahwa mereka akan terus memantau situasi dan menindak tegas pihak yang menyebarkan hoaks atau memprovokasi aksi kekerasan.

Insiden ini menambah daftar konflik sosial di wilayah Maluku Utara yang memerlukan penanganan cepat dan penyelesaian damai, mengingat kerentanan sosial yang masih tinggi di daerah kepulauan.

Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen untuk meningkatkan dialog lintas komunitas, memperkuat kehadiran aparat keamanan, serta melaksanakan program pencegahan konflik berbasis kearifan lokal.

Dengan demikian, upaya bersama antara aparat, tokoh agama, adat, dan masyarakat diharapkan dapat memulihkan ketertiban serta mencegah tragedi serupa terulang kembali.