47 Perwira TNI AD Naik Pangkat, Dua Prajurit Gugur Raih Bintang Tiga dalam Upacara Peringatan
47 Perwira TNI AD Naik Pangkat, Dua Prajurit Gugur Raih Bintang Tiga dalam Upacara Peringatan

47 Perwira TNI AD Naik Pangkat, Dua Prajurit Gugur Raih Bintang Tiga dalam Upacara Peringatan

LintasWarganet.com – 02 April 2026 | JAKARTA, 2 April 2026 – Kementerian Pertahanan menggelar serangkaian upacara penghargaan pada Rabu (1/4) yang menandai dua agenda penting: kenaikan pangkat bagi 47 perwira TNI Angkatan Darat (AD) dan pemberian pangkat bintang tiga secara anumerta kepada dua prajurit yang gugur dalam misi penjaga perdamaian di Lebanon.

Rangkaian Kenaikan Pangkat bagi 47 Perwira AD

Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, memimpin upacara di Istana Kepresidenan yang dihadiri pejabat tinggi, perwakilan Kementerian, serta keluarga prajurit. Sebanyak 47 perwira, mulai dari Letnan Dua hingga Kolonel, resmi naik satu jenjang pangkat setelah menempuh masa jabatan yang ditentukan dan memenuhi kriteria profesionalitas yang ketat.

Rangkaian kenaikan meliputi 12 Letnan Dua, 15 Letnan Satu, 10 Kapten, 6 Mayor, dan 4 Kolonel. Semua perwira menyatakan rasa syukur dan tekad untuk terus meningkatkan kinerja di tengah tantangan keamanan nasional. “Kami berkomitmen menegakkan integritas, menguatkan kesiapan tempur, serta berkontribusi pada pembangunan bangsa,” ujar salah satu Kapten yang baru dipromosikan.

Prajurit Gugur di Lebanon Dapat Kenaikan Pangkat Bintang Tiga

Sementara itu, dalam rangka menghormati pengorbanan tiga prajurit TNI yang gugur dalam operasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), Panglima TNI memberikan kenaikan pangkat anumerta. Dua di antara mereka, Kapten Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dianugerahi pangkat Brigadir Jenderal (bintang tiga) secara anumerta. Prajurit Kepala Fahrizal Rhomadhon juga menerima kenaikan pangkat luar biasa, namun tidak mencapai bintang tiga.

Ketiga prajurit tersebut gugur pada akhir Maret 2026. Kapten Zulmi dan Sersan Ichwan tewas dalam serangan kendaraan bermunisi yang menimpa konvoi logistik UNIFIL di wilayah Bani Hayyan, sementara Prajurit Kepala Rhomadhon meninggal akibat tembakan artileri di dekat pos Adchit Al Qusayr.

Penghargaan bintang tiga simbolis menegaskan pengakuan negara atas kontribusi strategis mereka dalam operasi militer selain perang (OMSP). “Penghormatan ini bukan sekadar simbol, melainkan wujud kepedulian negara terhadap keluarga yang ditinggalkan serta komitmen untuk tidak melupakan jasa mereka,” kata Jenderal Subiyanto.

Komponen Santunan dan Hak Keluarga

Keluarga ketiga prajurit menerima paket santunan komprehensif yang mencakup:

  • Kompen­si keuangan total lebih dari Rp1,8 miliar per keluarga (Kapten Zulmi Rp1.894.688.236; Sersan Ichwan Rp1.846.309.049; Prajurit Rhomadhon Rp1.854.075.205).
  • Gaji terusan selama 12 bulan lengkap dengan gaji pokok, uang lauk‑pauk, dan tunjangan jabatan.
  • Pensiun janda setelah periode gaji terusan berakhir.
  • Beasiswa pendidikan untuk dua anak masing‑masing.
  • Tabungan asuransi, santunan risiko kematian khusus, dana WATZAH, serta hak‑hak tabungan wajib prajurit (TWP AD) dan personal accident.

Selain itu, ketiga prajurit dianugerahi Medal Dag Hammarskjöld, penghargaan PBB bagi personel yang gugur dalam operasi penjaga perdamaian.

Reaksi Keluarga dan Masyarakat

Jenderal Subiyanto secara pribadi mengunjungi rumah orang tua Kapten Zulmi di Cimahi, Bandung. Momen itu disaksikan oleh media dan menimbulkan keharuan mendalam. “Anak saya telah berbakti untuk negara, dan kami bangga atas pengakuan yang diberikan,” ujar ayah Kapten Zulmi dengan mata berkaca‑kaca.

Berbagai kalangan, termasuk DPR, Kementerian Luar Negeri, dan organisasi veteran, memberikan ucapan dukungan serta menuntut penyelidikan menyeluruh atas serangan yang menewaskan prajurit Indonesia. Duta Besar Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, menegaskan pentingnya investigasi transparan oleh UNIFIL.

Implikasi Strategis

Kenaikan pangkat massal bagi 47 perwira AD sekaligus penghargaan anumerta menandakan dua hal penting. Pertama, TNI berupaya memperkuat struktur kepemimpinan di tengah dinamika keamanan regional. Kedua, penegasan penghargaan terhadap prajurit yang gugur memperkuat moral pasukan yang terlibat dalam operasi internasional.

Penguatan kepangkatan di dalam angkatan darat diharapkan meningkatkan efektivitas dalam operasi gabungan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sementara itu, paket santunan dan penghargaan simbolis menjadi contoh kebijakan negara yang menghargai jasa prajurit, sekaligus memberikan jaminan sosial bagi keluarga mereka.

Upacara selesai dengan menurunkan bendera setengah tiang sebagai penghormatan terakhir, diikuti dengan prosesi pengibaran bendera putih. Upacara tersebut menegaskan kembali tekad TNI untuk terus melindungi kedaulatan negara serta menghormati setiap pengorbanan yang diberikan.

Dengan langkah ini, TNI tidak hanya merayakan prestasi karier para perwira, tetapi juga menegaskan komitmen jangka panjang terhadap kesejahteraan prajurit dan keluarga mereka, sekaligus menegakkan standar profesionalisme dalam setiap operasi militer.