UGM Guncang Kebijakan: Dari Penutupan Prodi hingga Penguatan Ketahanan Pangan
UGM Guncang Kebijakan: Dari Penutupan Prodi hingga Penguatan Ketahanan Pangan

UGM Guncang Kebijakan: Dari Penutupan Prodi hingga Penguatan Ketahanan Pangan

LintasWarganet.com – 22 Mei 2026 | Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menjadi sorotan publik setelah serangkaian pernyataan dan aksi yang menyoroti dinamika pendidikan tinggi, kebijakan ekonomi, serta peran alumni dalam memperkuat ketahanan pangan. Dari kritik tajam terhadap rencana penutupan program studi yang dianggap mengabaikan masa depan, hingga peringatan tentang risiko kebijakan work‑from‑home (WFH) bagi aparatur sipil negara, serta inisiatif alumni yang membantu peternak ayam di Pacitan, semua mengungkap peran strategis UGM dalam memengaruhi kebijakan nasional.

Penutupan Program Studi: Suara Fakultas Ekonomi

Wisnu Setiadi Nugroho, ekonom terkemuka Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, menegaskan bahwa rencana pemerintah menutup program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pasar merupakan keputusan “rabun jauh”. Menurutnya, perguruan tinggi bukanlah pabrik tenaga kerja, melainkan ruang produksi pengetahuan, kritik, dan refleksi. Menutup prodi hanya karena kurang diminati pasar dapat mengabaikan fungsi sosial‑politik kampus serta menggerus kemampuan masyarakat untuk memahami dan mengoreksi perubahan.

Wisnu mengutip laporan McKinsey yang memperkirakan hingga 30% aktivitas kerja global berpotensi otomatis pada 2030. Ia menekankan pentingnya kompetensi fundamental seperti berpikir kritis, analitis, komunikasi, dan kerja tim, yang lebih tahan lama dibandingkan keahlian teknis yang cepat usang. Menurut data National Association of Colleges and Employers, kompetensi tersebut konsisten berada di urutan teratas kebutuhan pemberi kerja.

Kritik Akademisi Terhadap Optimisme Pemerintah

Media Wahyudi Askar, dosen Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, menyoroti kesenjangan antara narasi optimisme ekonomi pemerintah dan realitas hidup masyarakat. Ia menilai bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan kelas menengah maupun kelompok rentan. Menurutnya, manfaat pertumbuhan lebih banyak dinikmati oleh elit yang memiliki akses modal, aset, dan proyek strategis.

Askar menegaskan perlunya pemerintah membuka ruang dialog berbasis data dengan akademisi. Tanpa riset kuat, kebijakan cenderung menjadi retorika politik yang dapat menimbulkan program tidak efektif dan beban keuangan negara. Ia menyerukan agar pemerintah mengakui perspektif akademisi sebagai mitra berpikir, bukan sekadar penonton.

Risiko WFH di ASN Menurut Pakar UGM

Agustinus Subarsono, pakar kebijakan publik UGM, menilai kebijakan WFH bagi aparatur sipil negara (ASN) masih efektif di kota‑kota besar karena dapat mengurangi kepadatan mobilitas dan stres kerja. Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa standar operasional prosedur (SOP) yang jelas, kualitas layanan publik dapat menurun.

Menurut Agustinus, efektivitas WFH di sektor publik diukur dari kemampuan layanan tetap berjalan. Ia menyebutkan dua surat edaran (Menteri PANRB No.3/2026 dan Menteri Dalam Negeri No.800.1.5/3349/SJ) yang memberikan wewenang kepada pejabat masing‑masing untuk menyusun mekanisme kerja. Tantangan utama terletak pada kesiapan daerah dalam merumuskan SOP yang memadai.

Alumni UGM Dorong Ketahanan Pangan di Pacitan

Komunitas Punk Vet, yang diprakarsai oleh alumni UGM, melaksanakan pendampingan kepada peternak ayam broiler di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tiga alumni—Rizky Aurell Fernanda, Ardian Mulya Pangestu, dan Syarif Hidayat—memberikan pelatihan manajemen kandang closed house, pengendalian hama, dan kesehatan hewan. Fokus utama adalah meningkatkan produktivitas serta mengurangi risiko kerugian produksi.

Rizky menjelaskan bahwa pengendalian hama seperti lalat, tikus, dan nyamuk sangat berpengaruh terhadap performa ayam. Ardian menambahkan bahwa adopsi teknik modern dapat meningkatkan efisiensi budidaya, sementara Syarif menekankan pentingnya manajemen kesehatan untuk menjaga stabilitas hasil panen dan pendapatan peternak. Kegiatan tersebut didukung oleh PT Issu Medika Veterindo dan PT SHS International.

Inisiatif ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan melalui dukungan terhadap peternakan rakyat. Pendekatan berbasis pengetahuan dan teknologi menunjukkan peran aktif alumni UGM dalam menjembatani ilmu akademik dengan kebutuhan lapangan.

Kesimpulannya, UGM tampil sebagai pusat pemikiran yang tidak hanya mengkritisi kebijakan nasional, tetapi juga memberikan solusi praktis di sektor pertanian. Dari perdebatan tentang relevansi program studi hingga peringatan tentang risiko WFH, serta kontribusi alumni dalam meningkatkan produktivitas peternak, semua menunjukkan bahwa peran universitas tetap vital dalam membentuk masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan dan inklusif.