Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih 50%
Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih 50%

Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Dunia Meroket Lebih 50%

LintasWarganet.com – 29 Maret 2026 | Harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam lebih dari 50% dalam kurun waktu satu bulan, setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memuncak. Kenaikan ini memicu kekhawatiran akan pasokan energi global serta memperparah tekanan inflasi di banyak negara.

Sejak insiden militer yang memicu konflik terbuka pada awal bulan ini, Brent Crude naik dari sekitar $78 per barel menjadi hampir $120 per barel pada akhir pekan terakhir. Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) melampaui $115 per barel, mencatat kenaikan serupa.

Komoditas Harga Sebelum Konflik Harga Setelah Sebulan Kenaikan
Brent Crude $78/barel $120/barel +54%
WTI $73/barel $115/barel +58%

Peningkatan harga ini berdampak langsung pada biaya produksi dan transportasi di sektor industri, serta memperburuk beban konsumen dalam membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari. Pemerintah beberapa negara mulai mempertimbangkan subsidi energi sementara, sementara bank sentral menilai kemungkinan penyesuaian kebijakan moneter untuk menahan laju inflasi.

Analisis para pakar energi menyebut bahwa selain konflik militer, faktor spekulasi di pasar berjangka serta gangguan logistik di Selat Hormuz berkontribusi signifikan terhadap volatilitas harga. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama 20% pasokan minyak dunia, kini berada di bawah pengawasan intensif, meningkatkan risiko penundaan pengiriman.

Di sisi lain, negara-negara produsen OPEC+ berusaha menstabilkan pasar dengan menyesuaikan kuota produksi. Namun, perbedaan kebijakan antara anggota OPEC dan produsen non-OPEC menambah kompleksitas situasi.

Jika konflik tidak segera mereda, para analis memperkirakan harga minyak dapat terus berada di atas $130 per barel dalam beberapa minggu ke depan, yang akan menambah tekanan pada perekonomian global yang masih pulih dari pandemi COVID-19.