Rupiah Terima Sentimen Risk‑Off Akibat Ketidakpastian di Timur Tengah

LintasWarganet.com – 24 April 2026 | Rupiah masih berada dalam tekanan risk-off karena ketidakpastian yang memuncak di kawasan Timur Tengah, kata Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede.

Ketegangan geopolitik yang menyebabkan lonjakan harga minyak mentah serta fluktuasi pasar global menurunkan selera risiko investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah.

Beberapa faktor utama yang memperparah sentimen tersebut antara lain:

  • Kenaikan tajam harga minyak mentah akibat konflik di wilayah Timur Tengah.
  • Volatilitas indeks saham utama dunia yang memicu arus keluar modal dari pasar berkembang.
  • Kekhawatiran tentang kemungkinan penurunan pertumbuhan ekonomi global.

Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap berada di kisaran Rp15.300‑Rp15.400 per dolar, meskipun Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi untuk menstabilkan pasar.

Pardede menilai bahwa kebijakan moneter BI, termasuk penyesuaian suku bunga dan operasi pasar terbuka, masih menjadi faktor penopang, namun belum cukup untuk menghilangkan tekanan eksternal yang berasal dari dinamika politik luar negeri.

Ia menambahkan bahwa jika situasi di Timur Tengah tidak membaik atau terjadi eskalasi lebih lanjut, pasar valuta dapat mengalami penurunan lebih dalam, sehingga pelaku pasar disarankan memperkuat manajemen risiko dan memantau pergerakan nilai tukar secara intensif.

Secara keseluruhan, prospek rupiah dalam jangka pendek masih dipengaruhi oleh faktor eksternal, sementara fundamental ekonomi domestik tetap kuat berkat pertumbuhan ekspor yang stabil dan cadangan devisa yang memadai.