Rupiah Kian Tertekan, Proyeksi BI-Rate Terbelah Antara Tetap atau Naik
Rupiah Kian Tertekan, Proyeksi BI-Rate Terbelah Antara Tetap atau Naik

Rupiah Kian Tertekan, Proyeksi BI-Rate Terbelah Antara Tetap atau Naik

LintasWarganet.com – 20 Mei 2026 | Rupiah Indonesia terus mengalami pelemahan terhadap dolar AS dalam beberapa pekan terakhir, memicu perdebatan di kalangan ekonom mengenai langkah selanjutnya Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuannya, BI‑Rate.

Data pasar menunjukkan nilai tukar spot Rupiah berada di kisaran Rp15.300–Rp15.600 per dolar pada akhir pekan lalu, menembus level terendah sejak awal 2023. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, antara lain kebijakan moneter Federal Reserve yang masih keras, kenaikan harga minyak mentah, serta aliran modal keluar dari pasar negara berkembang.

Di dalam negeri, tekanan inflasi tetap tinggi. Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April tercatat 3,5 % tahun‑ke‑tahun, melampaui target tengah Bank Indonesia sebesar 2,5 %–3,5 %. Kenaikan harga pangan dan energi menjadi penyumbang utama, sementara nilai tukar yang melemah menambah beban impor.

Berbagai pakar ekonomi membagi pendapatnya tentang arah kebijakan suku bunga. Sebagian besar, yang dipimpin oleh tim riset bank komersial, memperkirakan BI akan mempertahankan BI‑Rate pada level 4,75 % untuk memberi ruang pada kebijakan fiskal dan menunggu data inflasi lebih jelas. Mereka berargumen bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut dapat memperburuk tekanan pada sektor riil, terutama UMKM yang masih bergumul dengan biaya pinjaman tinggi.

  • Argumen untuk mempertahankan 4,75 %: Memungkinkan penurunan beban utang domestik, menjaga likuiditas pasar, dan memberi sinyal kestabilan kepada investor.
  • Argumen untuk naik ke 5,00 % atau lebih: Mengendalikan ekspektasi inflasi, menahan depresiasi Rupiah lebih lanjut, serta menyesuaikan dengan kebijakan moneter global yang ketat.

Ekonom lain dari lembaga think‑tank independen menilai bahwa penurunan Rupiah yang terus berlanjut dapat memaksa BI untuk menaikkan suku bunga setidaknya satu poin basis, yakni menjadi 5,00 % atau bahkan 5,25 %. Mereka menekankan pentingnya menjaga nilai tukar agar tidak menggerogoti daya beli masyarakat.

Selain faktor suku bunga, analis menyoroti perlunya langkah tambahan, seperti intervensi pasar valuta asing, peningkatan cadangan devisa, dan koordinasi kebijakan fiskal untuk menstabilkan permintaan domestik.

Sejauh ini, Bank Indonesia belum mengumumkan keputusan resmi mengenai pertemuan Dewan Gubernur yang dijadwalkan pada pertengahan Mei. Semua mata kini tertuju pada pernyataan resmi BI, yang diperkirakan akan mencerminkan keseimbangan antara menahan inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Dengan dinamika nilai tukar yang terus berubah, keputusan BI akan menjadi faktor penentu bagi pasar keuangan, sektor perbankan, serta rumah tangga Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.