Rudy Mas'ud Didesak Mundur, Netizen Dukung & Gubernur Jawab Hak Angket: Drama Politik Kaltim Makin Panas
Rudy Mas'ud Didesak Mundur, Netizen Dukung & Gubernur Jawab Hak Angket: Drama Politik Kaltim Makin Panas

Rudy Mas’ud Didesak Mundur, Netizen Dukung & Gubernur Jawab Hak Angket: Drama Politik Kaltim Makin Panas

LintasWarganet.com – 26 Mei 2026 | Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah kebijakan anggaran provinsi menuai kritik keras, bahkan ada desakan terbuka agar ia mengundurkan diri. Namun, dukungan tak terduga datang dari kalangan partai dan netizen yang menegaskan bahwa gubernur tersebut masih memiliki ruang untuk bertahan asalkan mendengarkan aspirasi rakyat.

Dalam acara pembukaan Indonesia Petroleum Association (IPA) Convention and Exhibition 2026 di ICE BSD, Tangerang, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa seorang pejabat wajar menerima kritik. “Nggak apa‑apa, kamu Ketua Golkar kok, nggak apa‑apa. Jadi nggak ada itu kita mundur‑mundur,” ujarnya kepada Rudy yang juga menjabat sebagai Ketua Golkar daerah.

Kontroversi Anggaran dan Reaksi Publik

Berbagai proyek pengadaan pemerintah provinsi menjadi bahan bakar utama protes. Di antaranya:

  • Pengadaan armada mobil dinas baru senilai Rp8,5 miliar.
  • Anggaran laundry kantor provinsi mencapai Rp450 juta.
  • Renovasi rumah dinas jabatan dengan biaya Rp25 miliar.

Anggaran‑anggaran tersebut dianggap tidak proporsional dan menimbulkan pertanyaan tentang prioritas penggunaan dana publik. Demonstrasi di beberapa kota Kaltim bahkan berujung pada aksi unjuk rasa yang menuntut transparansi serta akuntabilitas penggunaan anggaran.

Berbagai akun media sosial memberikan pandangan berbeda. Akun @salmansuhartog menulis, “Bahlil benar soal tidak perlu mundur, tapi kritik rakyat Kaltim juga harus tetap didengar dan direspons serius.” Sementara @haikalraharjoj menambahkan, “Rudy bisa survive dari ini kalau mau dengerin rakyat dengan serius, bukan cuma mengandalkan dukungan partai.”

Tekanan publik tidak berhenti di situ. Pada 21 Mei 2026, dalam forum audiensi antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim, Rudy Mas’ud kembali dihadapkan pada dua tuntutan utama: pelaksanaan hak angket DPRD Kaltim dan desakan agar ia mengundurkan diri.

Rudy menegaskan bahwa hak angket sepenuhnya berada dalam kewenangan legislatif. “Karena di situ ada proses dan mekanisme. Nanti tanyakan anggota dewan di sana, ada aturan mainnya,” ujarnya. Ia menambahkan, hak angket merupakan fungsi pengawasan DPRD yang diatur dalam Pasal 20A ayat 1 UUD 1945, meliputi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Gubernur menegaskan dukungannya terhadap hak angket asalkan prosedur yang berlaku dipatuhi, namun menolak campur tangan eksekutif dalam proses tersebut.

Koordinator aksi, Jofan Ardiansyah, memperingatkan bahwa jika tuntutan tidak dipenuhi, aksi berikutnya akan melibatkan massa yang lebih besar. “Kalau misalnya tuntutan pada hari ini tidak dipenuhi, kami akan lanjut dengan jilid‑jilid selanjutnya, dengan massa yang lebih besar,” katanya.

Hingga akhir pertemuan, tidak ada penandatanganan berita acara atau kesepakatan konkrit antara pemerintah provinsi dan kelompok aksi, meninggalkan ruang tarik‑tarik antara aspirasi masyarakat dan mekanisme pemerintahan yang masih terbuka.

Situasi ini menegaskan bahwa politik daerah Kalimantan Timur berada pada titik kritis, di mana keputusan anggaran dan proses legislasi menjadi pusat perdebatan. Rudy Mas’ud tampak berada di persimpangan: mempertahankan posisi sekaligus menanggapi kritik yang semakin keras, sementara partainya memberikan ruang bernapas dengan menolak seruan mundur.

Ke depannya, dinamika ini akan terus menguji kemampuan gubernur dalam menyeimbangkan kepentingan politik, partai, dan harapan rakyat. Apabila respons kebijakan dan komunikasi publik dapat ditingkatkan, kemungkinan besar tekanan untuk mundur dapat mereda. Sebaliknya, kegagalan dalam menanggapi aspirasi masyarakat dapat memperburuk ketegangan dan memicu aksi-aksi massa yang lebih besar.