PLN Indonesia Power Tancap Gas di Solartech 2026, Dukung Target Ambisius Presiden PLTS 100 GW

LintasWarganet.com – 23 April 2026 | PLN Indonesia Power mengumumkan rencana penambahan pembangkit gas berbasis turbin di acara Solartech 2026, sebagai bagian dari strategi nasional untuk mempercepat pencapaian target 100 gigawatt (GW) pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digencarkan oleh Presiden Joko Widodo. Langkah ini menandai langkah penting dalam upaya mengintegrasikan energi fosil bersih dengan sumber energi terbarukan demi memastikan stabilitas jaringan listrik Indonesia.

Acara Solartech 2026, yang diselenggarakan di Jakarta, menjadi panggung utama bagi para pelaku industri energi untuk menampilkan inovasi terkini dalam bidang energi terbarukan, penyimpanan energi, dan solusi hibrida. Dalam sesi khusus, perwakilan PLN Indonesia Power memaparkan rencana pembangunan beberapa unit turbin gas berkapasitas tinggi yang akan beroperasi secara bersamaan dengan instalasi PLTS berukuran besar.

Penambahan turbin gas ini dirancang untuk mengatasi tantangan intermittensi energi surya, khususnya pada jam-jam dengan radiasi matahari rendah atau ketika produksi listrik dari PLTS mengalami penurunan. Dengan kemampuan ramp‑up cepat, turbin gas dapat menyeimbangkan beban jaringan, mengurangi risiko pemadaman, dan meminimalkan curtailment energi terbarukan.

Target 100 GW PLTS yang ditetapkan oleh pemerintah merupakan ambisi terbesar dalam sejarah energi Indonesia. Jika tercapai pada akhir 2026, kapasitas ini akan menyumbang sekitar 30% dari total kebutuhan listrik nasional. Untuk mendukung target tersebut, pemerintah telah mengeluarkan regulasi tarif feed‑in yang kompetitif, insentif fiskal, serta pembentukan zona energi surya khusus di beberapa provinsi dengan potensi sinar matahari tinggi.

Berikut beberapa poin utama dari strategi hibrida PLN Indonesia Power:

  • Pengadaan 3–4 unit turbin gas berkapasitas 250–300 MW masing‑masing, dengan teknologi siklus gabungan (combined cycle) untuk efisiensi >60%.
  • Integrasi langsung dengan 5–6 proyek PLTS berkapasitas 200–500 MW di wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
  • Penerapan sistem kontrol pintar berbasis AI untuk mengoptimalkan dispatch energi antara gas dan surya secara real‑time.
  • Penggunaan penyimpanan baterai skala menengah (50–100 MWh) sebagai buffer tambahan pada titik‑tumpu kritis.

Investasi total untuk fase awal hibrida ini diperkirakan mencapai sekitar US$ 1,2 miliar, dengan sebagian dana berasal dari obligasi hijau yang diterbitkan oleh PLN. Selain itu, kerja sama dengan perusahaan teknologi internasional diharapkan dapat mempercepat transfer pengetahuan dan standar operasional terbaik.

Para analis menilai bahwa strategi ini dapat meningkatkan keandalan sistem kelistrikan nasional hingga 99,9%, sekaligus mempercepat dekarbonisasi sektor energi. Dengan menambahkan kapasitas gas yang fleksibel, PLN dapat mengoptimalkan pemanfaatan energi surya yang semakin melimpah, mengurangi kebutuhan pembangkit berbahan bakar batu bara, dan menurunkan emisi CO₂ secara signifikan.

Ke depan, PLN Indonesia Power berencana memperluas model hibrida ini ke wilayah lain, termasuk pulau-pulau dengan potensi energi terbarukan yang masih belum tergarap. Pengembangan jaringan mikro‑grid berbasis surya‑gas di daerah terpencil juga menjadi bagian dari roadmap nasional untuk memastikan akses listrik yang merata dan berkelanjutan.