Piter Abdullah: Faktor Depresiasi Rupiah Sudah Campur Aduk, Salah Satunya Hilangnya Kepercayaan
Piter Abdullah: Faktor Depresiasi Rupiah Sudah Campur Aduk, Salah Satunya Hilangnya Kepercayaan

Piter Abdullah: Faktor Depresiasi Rupiah Sudah Campur Aduk, Salah Satunya Hilangnya Kepercayaan

LintasWarganet.com – 06 Juni 2026 | Piter Abdullah, ekonomis terkemuka, menegaskan bahwa penyebab depresiasi Rupiah kini tidak lagi dapat dipisahkan satu per satu. Menurutnya, kombinasi faktor internal dan eksternal telah menciptakan dinamika pasar yang kompleks, dimana hilangnya kepercayaan menjadi elemen kunci yang memperparah tekanan nilai tukar.

Berbagai faktor yang saling berinteraksi antara lain inflasi yang masih berada pada level tinggi, defisit anggaran yang melebar, serta ketidakseimbangan neraca perdagangan. Kebijakan moneter yang responsif namun belum cukup kuat, serta gejolak geopolitik global menambah lapisan ketidakpastian bagi investor.

Kepercayaan Pasar sebagai Penggerak Utama

Kepercayaan terhadap Rupiah mulai tergerus, memicu sentimen pasar yang negatif. Ketika pelaku pasar meragukan stabilitas nilai tukar, aliran modal keluar semakin cepat, memperkuat tekanan jual pada mata uang domestik. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan di mana depresiasi nilai tukar kembali mengurangi kepercayaan, sehingga memperdalam penurunan.

Data Pergerakan Nilai Tukar

Bulan Rupiah per USD
Jan 2024 15,100
Jun 2024 15,800
Des 2024 16,200

Data di atas menunjukkan tren pelemahan Rupiah sepanjang tahun 2024, yang sejalan dengan peningkatan inflasi dan defisit fiskal.

Langkah-Langkah Memulihkan Kepercayaan

  • Meningkatkan disiplin fiskal melalui pengendalian defisit dan optimalisasi penerimaan pajak.
  • Menjaga inflasi pada target yang dapat diprediksi dengan kebijakan suku bunga yang konsisten.
  • Memperkuat transparansi kebijakan ekonomi untuk memberi sinyal positif kepada investor.
  • Menguatkan cadangan devisa sebagai penyangga nilai tukar.
  • Mengoptimalkan kebijakan perdagangan untuk menyeimbangkan arus masuk dan keluar.

Piter Abdullah menekankan bahwa pengawasan ketat terhadap inflasi dan defisit anggaran sangat penting agar ekonomi Indonesia tetap kuat dan dapat tumbuh secara berkelanjutan. Upaya kolektif antara pemerintah, Bank Indonesia, dan sektor swasta diperlukan untuk memulihkan kepercayaan dan menstabilkan nilai tukar Rupiah.