Pertamina Ungkap Penyebab Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak
Pertamina Ungkap Penyebab Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak

Pertamina Ungkap Penyebab Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak

LintasWarganet.com – 11 Juni 2026 | Pertamina resmi mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar jenis Premium (Pertamax) menjadi Rp 16.250 per liter, efektif sejak awal 2026. Kenaikan ini menimbulkan keprihatinan di kalangan konsumen dan pelaku industri transportasi.

  • Kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah, serta keputusan produksi OPEC+ yang mengurangi pasokan.
  • Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang memperbesar beban impor minyak mentah bagi Indonesia.

Berikut rangkuman harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dalam tiga bulan terakhir (dalam USD per barrel):

Bulan Brent WTI
Januari 2026 84,5 79,2
Februari 2026 88,3 82,7
Maret 2026 92,1 86,4

Kenaikan rata‑rata sekitar 9 % dalam tiga bulan terakhir mendorong Pertamina menyesuaikan tarif BBM demi menjaga keseimbangan keuangan perusahaan dan stabilitas pasokan.

Selain faktor eksternal, Pertamina juga menyoroti kenaikan biaya operasional internal, termasuk biaya transportasi, penyimpanan, dan distribusi yang turut menambah beban produksi.

Juru bicara Pertamina menegaskan bahwa penetapan harga tetap mengacu pada mekanisme penetapan harga BBM yang transparan dan berpedoman pada regulasi pemerintah. Perusahaan berkomitmen untuk terus memantau situasi pasar global dan domestik, serta akan melakukan evaluasi rutin guna menyesuaikan harga bila diperlukan.

Pengaruh kenaikan harga Pertamax terhadap konsumen diperkirakan akan terasa paling signifikan pada sektor transportasi komersial dan pribadi. Analis ekonomi memperkirakan bahwa kenaikan harga BBM dapat meningkatkan tekanan inflasi, khususnya pada komoditas yang bergantung pada transportasi.

Untuk membantu masyarakat, pemerintah diprediksi akan memperkuat program subsidi energi dan mengoptimalkan kebijakan tarif listrik serta transportasi publik, guna meredam dampak langsung pada biaya hidup.