Penyebab Rupiah Melemah Bukan Faktor Internal, Ekonom Sebut Daya Beli Masyarakat Terjaga

LintasWarganet.com – 06 Mei 2026 | Rupiah Indonesia mengalami pelemahan nilai tukar akhir-akhir ini, namun analis ekonomi Surya Vandiantara menegaskan bahwa penyebab utama bukanlah kondisi domestik. Menurutnya, fondasi ekonomi negara tetap kuat, didukung oleh neraca perdagangan yang mencatat surplus dan posisi utang publik yang terkendali hingga tahun 2026.

Berikut beberapa faktor yang dipaparkan oleh Vandiantara:

  • Stabilitas makroekonomi – Inflasi berada dalam kisaran target Bank Indonesia, dan pertumbuhan ekonomi tetap positif.
  • Neraca perdagangan positif – Ekspor barang dan jasa melebihi impor, menghasilkan surplus sekitar US$12 miliar pada kuartal terakhir.
  • Posisi utang aman – Rasio utang pemerintah terhadap PDB diproyeksikan tidak melebihi 40% hingga 2026, jauh di bawah ambang batas risiko.

Data singkat terkait neraca perdagangan dan utang pemerintah dapat dilihat pada tabel berikut:

Tahun Surplus Neraca Perdagangan (US$ miliar) Rasio Utang terhadap PDB (%)
2023 11.8 38.5
2024 (proyeksi) 12.3 39.2
2025 (proyeksi) 12.7 39.8
2026 (proyeksi) 13.0 40.0

Dengan kondisi tersebut, daya beli masyarakat diperkirakan tetap terjaga meski nilai tukar rupiah melemah. Vandiantara menekankan bahwa kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten, serta cadangan devisa yang kuat, akan menahan tekanan eksternal dan melindungi konsumen.

Pengamat pasar menambahkan bahwa faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan sentimen global terhadap risiko tetap menjadi tantangan utama bagi mata uang rupiah. Namun, selama fondasi ekonomi domestik tetap solid, dampak jangka panjang terhadap daya beli dapat diminimalkan.