Papua Selatan, WWF Bahas Pengolahan Sisa Pangan Menjadi Energi Terbarukan
Papua Selatan, WWF Bahas Pengolahan Sisa Pangan Menjadi Energi Terbarukan

Papua Selatan, WWF Bahas Pengolahan Sisa Pangan Menjadi Energi Terbarukan

LintasWarganet.com – 27 Juni 2026 | Pemerintah Provinsi Papua Selatan bersama Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menggelar pertemuan dengan perwakilan World Wide Fund for Nature (WWF) untuk membahas potensi pemanfaatan sisa pangan sebagai sumber energi terbarukan. Diskusi berlangsung di kantor gubernur pada Senin (24/06/2026) dan dihadiri oleh pejabat provinsi, akademisi, serta pelaku industri pengolahan limbah.

WWF menyoroti bahwa setiap tahun wilayah Papua Selatan menghasilkan jutaan kilogram sisa makanan dari sektor rumah tangga, pasar tradisional, dan industri pengolahan ikan. Jika tidak dikelola dengan baik, sisa pangan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan menambah emisi gas rumah kaca. Sebaliknya, melalui proses anaerobik (biogas) atau konversi termal, limbah organik dapat diubah menjadi energi bersih yang dapat dimanfaatkan untuk listrik desa, pemanasan, atau bahan bakar transportasi.

Berikut poin utama yang dibahas dalam pertemuan:

  • Data sisa pangan: Diperkirakan 15.000 ton sisa pangan dihasilkan tiap tahun, dengan potensi energi mencapai 4.500 MWh.
  • Teknologi yang dipertimbangkan: Instalasi biogas skala kecil untuk desa, serta fasilitas pirolisis untuk produksi biochar dan listrik.
  • Model pembiayaan: Kolaborasi antara pemerintah, lembaga donor, dan sektor swasta melalui skema public‑private partnership (PPP).
  • Manfaat sosial‑ekonomi: Penyediaan listrik bagi daerah terpencil, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kebersihan lingkungan.

Gubernur Papua Selatan, Dr. Budi Sumarno, menegaskan komitmen provinsi untuk mengintegrasikan solusi energi terbarukan ke dalam rencana pembangunan jangka menengah. Ia berharap proyek percontohan dapat diluncurkan pada awal 2027, setelah penyusunan studi kelayakan dan pelatihan masyarakat setempat.

WWF menambahkan bahwa keberhasilan inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi provinsi lain di Indonesia, terutama yang memiliki tantangan serupa dalam pengelolaan limbah organik. Organisasi tersebut juga menawarkan dukungan teknis dan pendampingan dalam fase implementasi.

Jika berhasil, program ini tidak hanya akan mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan energi Papua Selatan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi komunitas lokal.