Nikkei 225 Merosot Drastis: Penurunan Terbesar Ketiga dalam Sejarah Dipicu Keterlambatan IPO OpenAI
Nikkei 225 Merosot Drastis: Penurunan Terbesar Ketiga dalam Sejarah Dipicu Keterlambatan IPO OpenAI

Nikkei 225 Merosot Drastis: Penurunan Terbesar Ketiga dalam Sejarah Dipicu Keterlambatan IPO OpenAI

LintasWarganet.com – 27 Juni 2026 | Indeks saham utama Jepang, Nikkei 225, mencatat penurunan tajam pada Jumat, 26 Juni 2026, dengan penurunan satu hari sebesar 4,15 persen atau sekitar 3.000 poin, menutup pada level 69.360. Penurunan ini menandai penurunan satu hari terbesar ketiga dalam sejarah indeks tersebut, sekaligus menghapus hampir seluruh kenaikan yang dicapai pada Kamis sebelumnya ketika teknologi AI dan semikonduktor mengangkat indeks ke rekor tertinggi.

Sekitar 4,15 persen penurunan tersebut didorong oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) dan chip. Investor tampak mengambil keuntungan setelah sekian lama mendorong harga saham di sektor tersebut. Salah satu pemicu utama penurunan ini adalah laporan media Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa OpenAI, perusahaan pengembang model bahasa besar, akan menunda penawaran umum perdana (IPO) yang sempat diharapkan menjadi salah satu momen paling penting di pasar modal global tahun ini.

Latar Belakang Pergerakan Nikkei

Pada hari Kamis, 25 Juni 2026, Nikkei 225 menutup pada rekor tertinggi 72.366,34 poin berkat dorongan beli pada saham-saham teknologi, terutama yang terkait AI. Namun, penundaan IPO OpenAI memicu kekhawatiran di kalangan investor mengenai prospek pertumbuhan jangka pendek sektor teknologi, sehingga menimbulkan tekanan jual yang meluas tidak hanya di Jepang, tetapi juga di pasar Asia lainnya.

Data dari Dow Jones yang dirilis pada pukul 10:54 GMT menunjukkan bahwa indeks tersebut juga mengalami penurunan mingguan sebesar 2,65 persen atau 1.889,18 poin, mencatat penurunan poin mingguan terbesar sejak minggu berakhir 6 Maret 2026. Penurunan mingguan ini menambah catatan negatif, mengingat Nikkei telah turun dua dari tiga minggu terakhir.

Selain Jepang, pasar lain di wilayah Asia juga terdampak. Indeks KOSPI di Korea Selatan turun hingga 8,2 persen, memicu penghentian sementara perdagangan selama 20 menit oleh Korea Exchange. Penurunan tersebut dipicu oleh aksi jual pada saham semikonduktor, mencerminkan sensitivitas sektor teknologi terhadap sentimen global yang berubah-ubah.

Analisis dan Reaksi Pasar

Para analis pasar menilai bahwa penurunan tajam ini merupakan koreksi wajar setelah lonjakan cepat pada minggu sebelumnya. Mereka menekankan bahwa penurunan hampir seluruh lonjakan pada hari Kamis menandakan bahwa pasar masih mengkonsolidasikan keuntungan dan menunggu kejelasan kebijakan serta hasil keuangan perusahaan teknologi.

Beberapa analis menyoroti bahwa penundaan IPO OpenAI dapat menimbulkan efek domino pada perusahaan AI lainnya, karena investor mungkin menilai bahwa valuasi yang terlalu tinggi belum dapat dipertahankan tanpa pendapatan yang signifikan. Dampak ini tercermin pada saham-saham besar seperti SoftBank Group, yang terjun bebas lebih dari 12 persen pada sesi tersebut.

Di sisi lain, pasar Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda ketahanan meski terpengaruh oleh aksi jual AI di Asia. Futures Nasdaq-100 turun 0,6 persen dan S&P 500 futures turun 0,2 persen, menandakan permulaan sesi perdagangan yang lebih lemah pada hari berikutnya.

Konsekuensi Jangka Panjang

Penurunan ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana investasi besar-besaran di sektor AI dapat menghasilkan laba yang berkelanjutan. Investor global kini menilai kembali eksposur mereka terhadap perusahaan teknologi yang belum menunjukkan profitabilitas yang jelas.

Selain faktor teknologi, kondisi makroekonomi global turut memengaruhi sentimen pasar. Bank of Japan baru-baru ini menaikkan suku bunga menjadi 1 persen, tertinggi sejak 1995, sebagai respons terhadap tekanan inflasi dan melemahnya yen. Kenaikan suku bunga di Jepang dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi perusahaan, menambah beban pada sektor korporat yang sudah berhadapan dengan volatilitas pasar.

Di Amerika Serikat, kebijakan moneter Federal Reserve tetap berada pada rentang 3,5-3,75 persen, dengan sikap hawkish terhadap inflasi. Kebijakan ini, bersama dengan perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang yang semakin menyempit, dapat mengubah aliran modal internasional, yang pada gilirannya memengaruhi nilai tukar dan harga aset di pasar saham Jepang.

Secara keseluruhan, penurunan Nikkei 225 pada 26 Juni 2026 mencerminkan kombinasi faktor spesifik sektor teknologi dan dinamika kebijakan moneter global. Investor diharapkan tetap waspada, mengingat potensi volatilitas lebih lanjut pada minggu-minggu mendatang, terutama jika isu-isu terkait AI dan kebijakan suku bunga terus berkembang.

Dengan pasar yang masih mencari arah yang jelas, para pelaku investasi perlu menyesuaikan strategi mereka, memperhatikan fundamental perusahaan serta faktor eksternal yang dapat memicu fluktuasi harga secara tiba-tiba.