Misteri Kucing Liar, Ketua BEM Karismatik, dan Mahasiswa Beasiswa: Tiga Cerita Menarik dari UGM yang Menggugah
Misteri Kucing Liar, Ketua BEM Karismatik, dan Mahasiswa Beasiswa: Tiga Cerita Menarik dari UGM yang Menggugah

Misteri Kucing Liar, Ketua BEM Karismatik, dan Mahasiswa Beasiswa: Tiga Cerita Menarik dari UGM yang Menggugah

LintasWarganet.com – 12 Juni 2026 | Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak hanya dikenal sebagai institusi pendidikan ternama, tetapi juga sebagai tempat beragam cerita yang mencerminkan dinamika sosial, lingkungan, dan aspirasi generasi muda. Dari kucing liar yang menghuni Wisdom Park, kepemimpinan berani seorang ketua BEM, hingga kisah inspiratif seorang mahasiswi berprestasi yang dapat kuliah gratis, ketiga narasi ini menyoroti kompleksitas dan semangat komunitas kampus.

Kucing Liar di Wisdom Park: Kehidupan di Tengah Hijau Kampus

Wisdom Park, kawasan hijau seluas beberapa hektar yang menjadi favorit mahasiswa untuk belajar dan bersantai, kini menjadi rumah bagi sekitar sepuluh ekor kucing liar. Penelusuran lapangan pada 10 Juni 2026 mengungkap keberadaan kucing di berbagai titik—mulai dari area danau, vertical garden, terowongan ikonik, hingga amphitheater. Sebagian kucing tampak telah disteril, terlihat dari telinga yang dipotong membentuk huruf V.

Awal keberadaan mereka diperkirakan berasal dari mahasiswa yang pernah memelihara kucing di kos atau kontrakan. Ketika mahasiswa lulus dan kembali ke kampung halaman, beberapa kucing dibuang di sekitar Wisdom Park, bahkan ada yang masih mengenakan kalung pengenal. Keluhan di media sosial menyoroti penambahan populasi kucing baru, termasuk kasus pembuangan kucing sakit seperti scabies.

Komunitas kampus merespon dengan menyediakan tempat pemberian makanan dan setoples cat food, serta mengajak mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab—menawarkan adopsi, shelter, atau solusi lain alih-alih membuang hewan peliharaan.

Tiyo Ardianto: Ketua BEM UGM yang Membuktikan Pendidikan Nonformal Bisa Berkualitas

Di sisi lain, kepemimpinan mahasiswa UGM mendapat sorotan lewat sosok Tiyo Ardianto, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) periode 2025-2026. Lulusan Paket C dari PKBM Omah Dongeng Marwah di Kudus, Tiyo menembus hierarki organisasi terbesar di kampus dengan latar belakang pendidikan nonformal.

Kariernya melejit setelah menulis surat terbuka kepada UNICEF mengenai tragedi siswa di NTT, serta mengkritik kebijakan anggaran nasional. Sikap vokalnya membuatnya sering menjadi target intimidasi digital, namun ia tetap konsisten berpartisipasi dalam podcast, talkshow televisi, dan forum publik untuk mengangkat isu-isu sosial.

Profilnya menekankan bahwa jalur pendidikan setara tidak menjadi hambatan untuk meraih prestasi. Melalui kreativitas dongeng yang menjadi metode belajar di PKBM, Tiyo mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kepemimpinan, yang kemudian terbukti saat ia memimpin BEM UGM dalam berbagai aksi advokasi mahasiswa.

Ristiana Artanti: Mahasiswa Berprestasi yang Mendapat Beasiswa Kuliah Gratis di UGM

Sementara itu, kisah Ristiana Artanti, atau Risti, menambah warna lain dalam mozaik UGM. Berasal dari Karangsari, Kulon Progo, Risti adalah putri buruh proyek yang berhasil masuk Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan di Sekolah Vokasi UGM melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Tidak hanya lolos tanpa tes, ia juga memperoleh beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 % sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa membayar UKT.

Prestasinya tidak hanya di bidang akademik; Risti aktif dalam marching band SMA Negeri 1 Wates, meraih juara umum tingkat kabupaten dan provinsi. Disiplin dalam membagi waktu antara kegiatan ekstra kurikuler dan belajar menjadi kunci keberhasilannya. Dukungan orang tua, meski dengan pendapatan tidak menentu, menjadi faktor penting—ibu Risti pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan ayahnya sebagai buruh proyek.

Kisah Risti mencerminkan bagaimana kebijakan beasiswa berbasis prestasi dapat membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi yang kurang beruntung, sekaligus memotivasi siswa lain untuk mengejar impian akademik.

Sinergi Cerita: Menggambarkan Dinamika Kampus UGM

Ketiga narasi ini, meski tampak berbeda, saling melengkapi dalam menggambarkan realitas kampus UGM. Kucing liar menandakan tantangan lingkungan dan tanggung jawab sosial mahasiswa dalam menjaga ekosistem kampus. Kepemimpinan Tiyo menunjukkan peran aktif mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan publik dan menginspirasi perubahan. Sementara Risti membuktikan bahwa peluang pendidikan tinggi dapat diakses oleh mereka yang berprestasi, terlepas dari latar belakang ekonomi.

Kesemuanya menegaskan bahwa UGM bukan sekadar institusi akademik, melainkan ruang interaksi sosial, lingkungan, dan aspirasi individu yang saling memengaruhi. Komunitas kampus diharapkan dapat terus mengintegrasikan kepedulian terhadap lingkungan, pemberdayaan kepemimpinan, serta pemberian kesempatan edukatif yang inklusif.

Dengan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama—baik terhadap makhluk hidup di sekitarnya, suara kritis yang membangun, maupun dukungan bagi mahasiswa berprestasi—UGM dapat terus menjadi contoh universitas yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga warga negara yang peduli dan berdaya.