Meski Ekspor RI Melonjak 22 Persen, Praswati Ingatkan Bahayanya Rupiah yang Tertekan
Meski Ekspor RI Melonjak 22 Persen, Praswati Ingatkan Bahayanya Rupiah yang Tertekan

Meski Ekspor RI Melonjak 22 Persen, Praswati Ingatkan Bahayanya Rupiah yang Tertekan

LintasWarganet.com – 06 Juni 2026 | Data terbaru menunjukkan nilai ekspor Indonesia pada kuartal pertama 2024 meningkat sebesar 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini didorong oleh permintaan kuat pada komoditas seperti kelapa sawit, batu bara, dan produk manufaktur.

Faktor pendorong ekspor

  • Kelapa sawit: +30%
  • Batu bara: +25%
  • Produk elektronik: +18%

Rupiah tetap tertekan

Meskipun volume ekspor tumbuh, nilai tukar rupiah terus berada di kisaran terendah dalam satu dekade terakhir. Pada akhir Maret 2024, rupiah diperdagangkan sekitar 15.800 per dolar AS, menurun hampir 8 persen dari awal tahun.

Tekanan nilai tukar ini memperburuk inflasi pangan dan energi, yang pada bulan April mencatat laju inflasi tahunan sebesar 5,2 persen, mendekati target Bank Indonesia.

Peringatan dari sejarah

Nama “prasasti” dalam judul mengacu pada catatan arkeologi masa Majapahit yang mencatat krisis nilai mata uang pada abad ke-14. Peneliti sejarah ekonomi mengingatkan bahwa ketidakstabilan nilai tukar dapat memicu hiperinflasi dan menggerus daya beli masyarakat, seperti yang terjadi pada era tersebut.

Langkah pemerintah dan Bank Indonesia

Untuk menstabilkan rupiah, Bank Indonesia telah meningkatkan suku bunga acuannya menjadi 6,25 persen dan memperketat likuiditas pasar. Pemerintah pula memperkuat cadangan devisa melalui penjualan obligasi luar negeri dan memperluas kerja sama perdagangan dengan mitra strategis.

Indikator Januari–Maret 2024 Januari–Maret 2023 Perubahan
Ekspor (USD miliar) 112,5 92,3 +22%
Rupiah per USD 15.800 14.600 -8%
Inflasi (yoy) 5,2% 4,8% +0,4 poin

Para analis menilai bahwa meski pertumbuhan ekspor memberikan dukungan positif bagi neraca perdagangan, kebijakan moneter yang ketat tetap diperlukan untuk menahan depresiasi rupiah. Jika nilai tukar tidak terkendali, risiko inflasi dapat meluas ke sektor riil, mengurangi daya beli konsumen, dan menurunkan kepercayaan investor asing.

Secara keseluruhan, catatan peningkatan ekspor harus diimbangi dengan upaya stabilisasi nilai tukar agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat berkelanjutan tanpa menimbulkan beban tambahan bagi rumah tangga.