Krisis Bitcoin: Dari Kebangkrutan ATM Terbesar hingga Raksasa Antariksa Simpanan Miliaran
Krisis Bitcoin: Dari Kebangkrutan ATM Terbesar hingga Raksasa Antariksa Simpanan Miliaran

Krisis Bitcoin: Dari Kebangkrutan ATM Terbesar hingga Raksasa Antariksa Simpanan Miliaran

LintasWarganet.com – 22 Mei 2026 | Pasar cryptocurrency kembali menjadi sorotan utama setelah serangkaian peristiwa besar mengguncang ekosistem Bitcoin dalam beberapa minggu terakhir. Dari kebangkrutan operator ATM Bitcoin terbesar di Amerika Utara, hingga pengakuan publik seorang miliarder tentang kekecewaan terhadap aset digital, hingga pengungkapan kepemilikan ratusan juta dolar dalam bentuk Bitcoin oleh perusahaan antariksa, semua menambah lapisan kompleksitas pada narasi Bitcoin saat ini.

Bitcoin Depot tutup 9.000 mesin ATM setelah mengajukan kebangkrutan Chapter 11

Pada 18 Mei 2026, Bitcoin Depot, perusahaan berbasis Atlanta yang mengoperasikan lebih dari 9.000 mesin Bitcoin ATM di 47 negara bagian, mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11. Keputusan tersebut memaksa penutupan total seluruh mesin, menghentikan jalur fisik terbesar bagi publik untuk membeli Bitcoin dengan uang tunai. Penurunan pendapatan hampir 49% secara tahunan dan beralihnya laba $12,2 juta menjadi kerugian $9,5 juta menjadi pendorong utama langkah drastis ini. Saham perusahaan yang terdaftar di Nasdaq (BTM) turun lebih dari 80%, dari sekitar $3 menjadi $0,75 per lembar.

Manajemen Bitcoin Depot menuding regulasi di California sebagai faktor utama yang memperparah situasi. Negara bagian tersebut menerapkan batas penarikan harian sebesar $1.000 pada mesin ATM kripto, satu-satunya batas serupa di Amerika Serikat. Batasan ini, dikombinasikan dengan peningkatan tindakan penegakan hukum oleh jaksa negara bagian terhadap ATM kripto yang dianggap memfasilitasi penipuan, menekan model bisnis perusahaan secara signifikan.

Data on‑chain mengindikasikan risiko penurunan harga yang sangat kecil

Sementara perusahaan ritel kripto menghadapi tekanan regulasi, indikator on‑chain menunjukkan bahwa Bitcoin berada dalam fase akumulasi yang kuat. Pemegang Bitcoin jangka panjang (lebih dari satu tahun) kini menguasai 71,6% dari total suplai beredar, setara dengan lebih dari 15,04 juta BTC—level tertinggi sejak 1 Oktober 2025. Kombinasi ini menurunkan probabilitas Bitcoin kembali turun di bawah $60.000 menjadi “sangat kecil”, menurut analis pasar.

Secara teknikal, indeks kekuatan relatif (RSI) mingguan kembali menembus level 50 setelah berada di zona over‑sold selama 105 hari, menandakan potensi pemulihan yang serupa dengan siklus bullish pada tahun 2013, 2016, 2019, dan akhir 2022. Analyst Sykodelic menekankan bahwa kebangkitan RSI ini biasanya menjadi pra‑sinyal kenaikan harga yang signifikan.

Mark Cuban menjual sebagian besar kepemilikan Bitcoin

Di sisi lain, tokoh bisnis terkenal Mark Cuban mengumumkan bahwa ia telah menjual sebagian besar kepemilikan Bitcoin-nya setelah menyimpulkan bahwa aset tersebut gagal berfungsi sebagai lindung nilai terhadap melemahnya dolar AS dan ketegangan geopolitik, khususnya konflik Iran baru-baru ini. Cuban, yang sebelumnya menyebut Bitcoin sebagai “versi emas yang lebih baik”, mengakui bahwa harga Bitcoin justru turun ketika dolar melemah, sementara harga emas melambung.

Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam pandangan seorang investor berpengalaman, yang kini lebih condong pada Ethereum dan menganggap sebagian besar altcoin sebagai “sampah”. Penjualan Bitcoin Cuban dilaporkan bernilai sekitar $77.345,17, menegaskan bahwa bahkan pemilik institusional dapat beralih pandangan secara cepat ketika dinamika pasar berubah.

SpaceX menyimpan hampir 19.000 Bitcoin, nilai lebih dari $1,4 miliar

Di tengah spektrum yang beragam, SpaceX mengungkapkan dalam dokumen S‑1 IPO bahwa perusahaan memegang 18.712 unit Bitcoin, dengan nilai pasar sekitar $1,45 miliar pada harga Bitcoin $77.000 per unit. Pembelian awal Bitcoin oleh SpaceX tercatat sekitar $661 juta, dengan harga rata‑rata $35.000 per BTC, menunjukkan bahwa perusahaan berinvestasi pada fase harga yang jauh lebih rendah.

Walaupun jumlah ini masih di bawah kepemilikan korporasi terbesar—Strategy Inc. dengan lebih dari 843.000 BTC—posisi SpaceX menegaskan bahwa perusahaan teknologi tinggi masih melihat Bitcoin sebagai aset penyimpan nilai jangka panjang. Hal ini juga memperkuat persepsi bahwa institusi besar dapat menahan fluktuasi harga jangka pendek demi potensi pertumbuhan nilai di masa depan.

Risiko leverage dan dukungan harga di sekitar $76.000

Meski data on‑chain memberi sinyal bullish, beberapa analis mengingatkan adanya risiko downside yang terkait dengan peningkatan leverage di pasar. Pada level dukungan sekitar $76.000, tekanan jual masih dapat muncul bila para trader yang memanfaatkan margin menghadapi margin call. Namun, dengan suplai yang terkonsentrasi pada pemegang jangka panjang dan RSI yang kembali ke zona netral, potensi penurunan tajam menjadi lebih terbatas.

  • Kebangkrutan Bitcoin Depot menurunkan akses fisik ke Bitcoin bagi pengguna cash.
  • Regulasi ketat, khususnya batas penarikan harian di California, menjadi pemicu utama.
  • Pemegang jangka panjang menguasai lebih dari 71% suplai, menurunkan risiko penurunan harga.
  • Mark Cuban menjual sebagian besar Bitcoin, menandakan keraguan pada peran digital gold.
  • SpaceX memegang hampir 19.000 BTC, menambah bukti adopsi institusional.

Kesimpulannya, ekosistem Bitcoin kini berada pada persimpangan penting antara tekanan regulasi, perubahan persepsi investor besar, dan indikator teknikal yang mengindikasikan fase akumulasi. Selama suplai berkurang dan institusi seperti SpaceX tetap menahan posisi besar, tekanan jual yang signifikan mungkin terbatas. Namun, volatilitas tetap menjadi faktor yang harus dipantau, terutama pada level dukungan kritis dan pada saat kebijakan regulator berubah secara mendadak.