Ketergantungan Sulfur Timur Tengah Jadi Risiko, Petrokimia Gresik Perkuat Rantai Pasok Domestik
Ketergantungan Sulfur Timur Tengah Jadi Risiko, Petrokimia Gresik Perkuat Rantai Pasok Domestik

Ketergantungan Sulfur Timur Tengah Jadi Risiko, Petrokimia Gresik Perkuat Rantai Pasok Domestik

LintasWarganet.com – 01 April 2026 | Petrokimia Gresik (Petragro) mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat pasokan sulfur domestik setelah menilai ketergantungan impor dari Timur Tengah berpotensi mengancam kestabilan produksi pupuk nitrogen di Indonesia. Keputusan ini diambil seiring dengan meningkatnya gejolak politik dan logistik di kawasan penghasil sulfur utama, yang selama ini menyumbang lebih dari 70% kebutuhan industri kimia nasional.

Sulfur merupakan bahan baku penting dalam proses produksi amonium sulfida, komponen utama pupuk urea. Fluktuasi harga dan gangguan pengiriman dapat menurunkan produksi pupuk, berimbas pada ketahanan pangan negara. Menurut data internal Petragro, keterlambatan pengiriman sulfur pada kuartal pertama tahun ini menyebabkan penurunan produksi urea sebesar 5%, mengakibatkan tekanan pada harga pasar domestik.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Petragro memulai serangkaian inisiatif, antara lain:

  • Meningkatkan kapasitas fasilitas penyimpanan sulfur di pelabuhan Gresik.
  • Menjalin kemitraan dengan produsen sulfur di dalam negeri, termasuk perusahaan pertambangan batu bara yang menghasilkan sulfur sebagai produk sampingan.
  • Investasi dalam teknologi desulfurisasi dan pemulihan kembali sulfur dari limbah proses produksi.
  • Pengembangan cadangan strategis sulfur yang dapat menutup kebutuhan operasional selama enam bulan.

Langkah-langkah tersebut diharapkan tidak hanya menjamin kelancaran produksi pupuk, tetapi juga mendukung kebijakan pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan melalui diversifikasi sumber bahan baku. Selain itu, peningkatan pasokan domestik dapat menurunkan ketergantungan pada impor, mengurangi beban devisa, dan meningkatkan daya saing industri petrokimia Indonesia di pasar global.

Petragro menegaskan komitmennya untuk terus memantau situasi geopolitik dan logistik global, serta beradaptasi dengan cepat melalui koordinasi dengan regulator, asosiasi industri, dan pemangku kepentingan lainnya. Upaya ini menjadi contoh konkret bagaimana perusahaan nasional dapat berperan proaktif dalam mengamankan rantai pasok kritis demi stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan negara.