IHSG Terjun di Bawah 7.000: Tekanan Jual Lanjut, Rekomendasi Saham dan Strategi Investor di Tengah Gejolak Pasar
IHSG Terjun di Bawah 7.000: Tekanan Jual Lanjut, Rekomendasi Saham dan Strategi Investor di Tengah Gejolak Pasar

IHSG Terjun di Bawah 7.000: Tekanan Jual Lanjut, Rekomendasi Saham dan Strategi Investor di Tengah Gejolak Pasar

LintasWarganet.com – 30 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada sesi pertama perdagangan Kamis, 30 April 2026. Pada pukul 09.07 WIB, indeks tercatat berada di level 6.926,548, menurun 2,46 persen atau 174,678 poin dari pembukaan. Penurunan ini menandai terobosan pertama indeks di bawah zona psikologis 7.000 dan menembus rata‑rata bergerak 5 hari (MA5), yang selama ini menjadi penopang utama pergerakan pasar.

Data Perdagangan dan Sentimen Pasar

Selama sesi I, total nilai transaksi mencapai Rp 11,26 triliun dengan 22,48 juta saham diperdagangkan dalam 1,54 juta kali transaksi. Dari 1.059 saham yang tercatat, 648 saham mengalami penurunan, hanya 103 saham yang menguat, sementara 208 saham tetap stagnan. Top Gainers hari itu meliputi HERO, ADHI, SMU, PSDN, NIKL, LCKM, EURO, dan CASH, sedangkan Top Losers didominasi oleh BOBA, KONI, MEGA, BLUE, LUCK, LAPD, KOCI, serta CITA.

Indikator Teknis Menunjukkan Tekanan Jual

Selain menembus MA5, indikator MACD menampilkan histogram negatif yang mengindikasikan momentum jual masih kuat. Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG dapat menguji level 6.975 pada sesi berikutnya jika tekanan jual tidak mereda. Level support terdekat berada di kisaran 6.900‑7.000, sementara resistance berada di zona 7.120‑7.200.

Rekomendasi Saham di Tengah Kelemahan IHSG

Berbagai lembaga sekuritas tetap memberikan rekomendasi saham yang dianggap memiliki fundamental kuat atau potensi rebound. BNI Sekuritas menyoroti enam saham unggulan: PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE), dan PT Timah Tbk (TINS). Rekomendasi ini disampaikan bersamaan dengan pernyataan bahwa IHSG berpotensi melakukan koreksi kembali, terutama mengingat tekanan jual yang datang dari aksi jual asing sebesar Rp 987 miliar, terutama pada saham BMRI, BBCA, BBRI, ANTM, dan PTRO.

Saham Big Bank dan Konglomerat Mengalami Penurunan

Data RTI mencatat bahwa pada pagi hari, indeks berada di level 7.059,32, turun 0,58 persen. Saham perbankan besar menurun signifikan: BBCA turun 2,09 persen, BBNI 1,05 persen, BBRI 1,63 persen, dan BMRI sempat turun 1,13 persen sebelum pulih sedikit. Di sisi lain, saham konglomerat juga ikut merosot; contohnya PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 3,18 persen, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 5,71 persen, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 10,17 persen.

Pandangan Direksi BRI tentang Strategi Investasi

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, memberikan perspektif bagi investor yang menghadapi kondisi pasar yang tertekan. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan strategi dengan tujuan investasi, membedakan antara pendekatan jangka pendek (trading) dan jangka panjang (investasi). Bagi investor jangka panjang, Hery menyarankan untuk berfokus pada saham blue‑chip dengan fundamental kuat, seperti BBRI, serta memperhatikan aspek dividend yield dibandingkan fluktuasi harga harian.

Hery juga menekankan bahwa perbaikan kondisi makroekonomi, baik global maupun domestik, dapat menjadi katalis bagi pemulihan indeks. Ia menegaskan bahwa meski IHSG masih berada di zona merah, tren tahunan tetap positif dengan kenaikan sekitar 11,8 persen.

Proyeksi dan Risiko Kedepan

Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berisiko menguji level support 6.900. Sebaliknya, dukungan teknikal pada MA5 dan potensi beli kembali oleh investor institusional dapat menstabilkan pergerakan. Faktor eksternal, termasuk nilai tukar rupiah yang melemah ke 17.300 per dolar AS serta volatilitas pasar global, tetap menjadi variabel penting yang dapat memperkuat atau melemahkan sentimen pasar domestik.

Dengan volume perdagangan yang masih tinggi namun didominasi oleh aksi jual, pasar tampak berada dalam fase “wait‑and‑see”. Investor disarankan untuk tetap menjaga disiplin risiko, memanfaatkan stop‑loss, dan menunggu konfirmasi teknikal sebelum menambah posisi.

Secara keseluruhan, hari Kamis menandai salah satu penurunan terburuk IHSG dalam beberapa minggu terakhir, sekaligus mempertegas pentingnya strategi investasi yang selaras dengan profil risiko masing‑masing. Keputusan akhir tetap berada di tangan investor, dengan harapan kondisi makro dan fundamental saham dapat membantu memulihkan indeks dalam jangka menengah.