IHSG Menguat Dramatis: Rebound Energi & Barang Baku Dorong Indeks ke Level Tertinggi
IHSG Menguat Dramatis: Rebound Energi & Barang Baku Dorong Indeks ke Level Tertinggi

IHSG Menguat Dramatis: Rebound Energi & Barang Baku Dorong Indeks ke Level Tertinggi

LintasWarganet.com – 23 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mencatat penguatan signifikan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026. Setelah sempat tertekan akibat delisting satu emiten oleh lembaga pemeringkat, indeks ini berhasil bangkit dan menutup sesi di level 6.162,05, naik 67,11 poin atau setara 1,10 persen. Kenaikan tersebut didorong kuat oleh sektor energi dan barang baku yang menunjukkan performa rebound yang mengesankan.

Faktor Penguat: Energi dan Barang Baku

Rally di sektor energi dan barang baku menjadi pendorong utama pergerakan IHSG. Menurut Ratna Lim, Kepala Riset Phintraco Sekuritas, energi naik 6,85 persen sementara barang baku mencatat kenaikan 6,74 persen. Kenaikan tersebut diperkirakan terkait dengan rumor penundaan penuh implementasi kebijakan ekspor batu bara dan komoditas strategis lainnya hingga 1 Januari 2027. Penundaan ini memberi waktu transisi lebih panjang bagi eksportir dan pembeli internasional, sehingga menurunkan tekanan pada perusahaan terkait.

Sektor konsumen non‑primer juga berkontribusi positif dengan kenaikan 2,43 persen. Sebaliknya, sektor keuangan mengalami penurunan tipis sebesar 0,07 persen, menjadikannya satu‑satunya sektor yang melemah pada hari itu.

Pernyataan Pemerintah: Koreksi Pasar adalah Hal Wajar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa koreksi pasar yang terjadi setelah delisting emiten adalah fenomena alami. Ia menambahkan bahwa pergerakan IHSG tetap berada di zona hijau, menandakan sentimen pasar masih positif. Airlangga juga menolak spekulasi bahwa koreksi tersebut dipengaruhi oleh pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) atau defisit neraca perdagangan.

“Sebetulnya IHSG itu, kan kemarin ada emiten yang keluar dari lembaga rating. Nah, tentu koreksi itu suatu hal yang wajar, ada koreksi di market,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Data Perdagangan Lengkap

  • IHSG tutup: 6.162,05 (+1,10%)
  • LQ45 tutup: 620,44 (+0,66%)
  • Sektor barang baku: +6,74%
  • Sektor energi: +6,85%
  • Sektor konsumen non‑primer: +2,43%
  • Sektor keuangan: -0,07%

Frekuensi perdagangan mencapai 1.970.670 kali transaksi, dengan volume saham sebesar 40,28 miliar lembar senilai Rp21,56 triliun. Dari total 818 saham yang diperdagangkan, 449 saham naik, 251 saham turun, dan 118 saham tetap datar.

Pengaruh Harga Plastik Terhadap UMKM

Sementara pasar saham menunjukkan penguatan, sektor riil masih menghadapi tekanan, terutama pada industri plastik. Harga plastik kiloan yang biasanya berkisar antara Rp32.000–Rp37.000 kini melonjak hingga Rp50.000 per kilogram. Kenaikan ini dirasakan langsung oleh pelaku UMKM, seperti penjual susu jahe yang harus mengurangi pembelian plastik karena biaya produksi yang semakin tinggi.

Kenaikan harga plastik dipicu sejak pertengahan Ramadan dan masih berada pada level tinggi meski ada sedikit penurunan. Kondisi ini menambah beban biaya bagi usaha kecil menengah, yang pada gilirannya dapat memengaruhi permintaan barang dan layanan di pasar domestik.

Analisis dan Outlook

Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada hari Jumat mencerminkan kombinasi antara faktor fundamental (kebijakan ekspor batu bara) dan sentimen pasar yang tetap optimis meski ada koreksi teknikal. Kenaikan sektor energi dan barang baku menunjukkan bahwa investor menaruh harapan pada pemulihan komoditas, sementara sektor keuangan yang lemah mengindikasikan kebutuhan akan kebijakan moneter yang lebih hati-hati.

Jika kebijakan penundaan ekspor tetap berjalan dan tidak ada kejutan geopolitik, indeks diperkirakan akan terus berada di zona hijau dalam beberapa minggu ke depan. Namun, tekanan pada biaya produksi akibat harga plastik yang tinggi dapat menurunkan margin UMKM, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi sentimen konsumen.

Dengan dukungan kebijakan pemerintah yang menekankan stabilitas pasar dan upaya mengurangi volatilitas, IHSG memiliki peluang untuk mempertahankan tren kenaikan, asalkan faktor eksternal seperti kebijakan ekspor dan harga komoditas tetap terkendali.