IHSG Melaju Kuat, Saham Blue Chip dan Buyback Himbara Jadi Magnet Investor
IHSG Melaju Kuat, Saham Blue Chip dan Buyback Himbara Jadi Magnet Investor

IHSG Melaju Kuat, Saham Blue Chip dan Buyback Himbara Jadi Magnet Investor

LintasWarganet.com – 11 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan signifikan pada pertengahan Juni 2026, memicu optimisme di kalangan investor dan menyoroti aksi buyback yang semakin menonjol di pasar modal Indonesia. Pergerakan indeks, kenaikan harga saham unggulan, serta rencana pembelian kembali saham oleh perusahaan-perusahaan besar menjadi sorotan utama dalam sesi perdagangan terbaru.

Penguatan IHSG dan Sentimen Positif

Menurut data IDX Mobile, pada Rabu 10 Juni 2026 IHSG naik 2,34% menjadi 5.881,23 pada penutupan sesi I, bahkan sempat menembus level 5.939,23 pada awal perdagangan. Kenaikan berlanjut pada Kamis 11 Juni 2026, ketika indeks menguat 2,71% atau 155,73 poin, menutup pada 5.902,38. Analis menilai bahwa IHSG berada pada gelombang teknikal [iv] dari wave 3, dengan potensi menguji area resistance 6.065‑6.256 serta moving average 20‑hari.

Level support diperkirakan berada di 5.594 dan 5.344, sedangkan resistance utama berada di 5.941 dan 6.065. Sentimen pasar dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar rupiah, penurunan harga minyak dunia, serta optimisme terhadap kebijakan pemerintah yang menanggapi volatilitas pasar modal domestik.

Saham Blue Chip dan Pergerakan Kapitalisasi Besar

Pergerakan indeks didorong oleh kinerja kuat saham-saham dengan kapitalisasi pasar terbesar. Dari sepuluh saham teratas, sembilan mencatat kenaikan, hanya satu yang melemah. Berikut rangkuman beberapa pergerakan penting:

  • Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 9,71% ke Rp5.650.
  • Bank Rakyat Indonesia (BRI) naik 3,23% ke Rp2.880.
  • Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat kenaikan tertinggi di sektor perbankan, 7,65% ke Rp3.520.
  • Telkom Indonesia (TLKM) menguat 7,25% ke Rp2.810.
  • Astra International (ASII) naik tipis 0,64% ke Rp4.700.

Saham-saham lain seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) juga menunjukkan lonjakan masing-masing 16,30% dan 12,37%.

Rekomendasi Riset dan Peluang “Buy on Weakness”

Tim riset MNC Sekuritas menyarankan investor untuk mempertimbangkan strategi “buy on weakness” pada beberapa emiten, antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Penekanan pada pembelian kembali saham (buyback) muncul sebagai tema utama dalam beberapa pernyataan eksekutif.

Buyback di Sektor Perbankan dan Industri

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa fundamental bank-bank dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) berada pada posisi terbaik meski harga saham belum mencerminkan nilai tersebut. Menurutnya, aksi buyback merupakan peluang bagi perusahaan untuk menambah nilai bagi pemegang saham ketika harga pasar berada di bawah nilai fundamental.

Berikut beberapa poin penting terkait buyback:

  • Himbara diprediksi melakukan buyback karena sahamnya dianggap undervalued.
  • Astra International mengumumkan rencana buyback maksimal Rp8 triliun, yang akan dilaksanakan mulai 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027.
  • Dony Oskaria menekankan bahwa buyback tidak bersifat instruksi wajib bagi semua BUMN, melainkan keputusan strategis masing-masing perusahaan.

Tren Saham Hijau dan Volume Perdagangan

Data RTI Business mencatat adanya 543 saham hijau yang menguat pada sesi perdagangan Rabu 10 Juni, sementara 151 saham melemah dan 118 stagnan. Volume perdagangan mencapai 31,68 miliar saham dengan nilai transaksi Rp19,94 triliun, menandakan likuiditas tinggi dan minat beli yang kuat.

Secara keseluruhan, meskipun IHSG masih mencatat koreksi tahunan sebesar 31,98% dan net foreign sell sebesar Rp64,25 triliun, momentum penguatan tetap terjaga berkat dukungan fundamental perusahaan, kebijakan makroekonomi yang membaik, dan ekspektasi positif terhadap program buyback.

Investor disarankan tetap memperhatikan level support dan resistance teknikal, sambil menilai fundamental masing-masing emiten, khususnya di sektor perbankan dan infrastruktur, sebelum mengambil keputusan masuk atau menambah posisi.