IHSG 3 Juni 2026: Dari Penurunan 4% Hingga Potensi Penguatan di Level 6.4 Ribu, Apa Kata Analis?
IHSG 3 Juni 2026: Dari Penurunan 4% Hingga Potensi Penguatan di Level 6.4 Ribu, Apa Kata Analis?

IHSG 3 Juni 2026: Dari Penurunan 4% Hingga Potensi Penguatan di Level 6.4 Ribu, Apa Kata Analis?

LintasWarganet.com – 03 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Pada sesi pertama, indeks tertekan tajam, mencatat penurunan sebesar 4,34% hingga menyentuh level 5.924, sementara LQ45 turun 4,13% ke angka 593. Penurunan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan tekanan jual dari emiten konglomerasi yang sempat mengalami auto‑reject.

Namun, tidak lama setelah sesi pertama berakhir, pasar berbalik arah. Pada akhir sesi I, IHSG berhasil menguat kembali sebesar 1,49% dan pada penutupan hari tersebut indeks berada di level 6.195,42, mencatat kenaikan 1,11% dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan ini didorong oleh performa kuat saham-saham big caps seperti DSSA, BREN, BBCA, serta dukungan sektor perbankan.

Faktor Penekan dan Penguat

Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan IHSG pada 3 Juni 2026 dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Nilai Tukar Rupiah: Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu penyebab utama koreksi tajam pada sesi pertama.
  • Tekanan Jual dari Konglomerasi: Saham-saham emiten besar yang berada di bawah grup konglomerasi mengalami tekanan jual signifikan, menambah beban pada indeks.
  • Sentimen Geopolitik: Konflik di Timur Tengah serta data inflasi domestik menjadi faktor risiko yang dipantau ketat oleh pelaku pasar.
  • Rebound Big Caps: Saham-saham seperti DSSA (+25%), BREN (+24,85%), serta bank-bank besar (BBRI, BMRI, BBCA, BBNI) mencatat kenaikan double‑digit, membantu mengembalikan momentum positif.

Rekomendasi Saham untuk Hari Ini

Melihat kondisi pasar yang masih volatil, analis merekomendasikan fokus pada saham-saham berikut:

  • Sektor Perbankan Besar (Big Banks): BBCA, BBRI, BMRI, BBNI – karena memiliki bobot besar dalam indeks dan cenderung stabil.
  • Saham Konglomerasi: Emiten yang berada di bawah grup konglomerasi raksasa, misalnya PT Indofood Sukses Makmur (IFLM) dan PT Astra International (ASII), yang memiliki likuiditas tinggi.
  • Big Caps Penggerak: DSSA, BREN, serta saham-saham energi dan infrastruktur yang menunjukkan pertumbuhan kuat.

Strategi perdagangan yang disarankan meliputi:

  1. Menetapkan level support di 5.996 dan 5.899 sebagai zona pembelian jika terjadi koreksi lebih dalam.
  2. Menjaga level resistance utama di 6.318 dan 6.459 untuk target profit jangka pendek.
  3. Mengamati volume penjualan pada sesi pertama; bila volume menurun, peluang rebound menjadi lebih besar.

Proyeksi dan Outlook

Menurut riset MNC Sekuritas, IHSG berada dalam fase wave [v] dari wave A pada struktur gelombang Elliott. Dengan demikian, indeks diperkirakan akan menguji kisaran 6.362‑6.484 dalam beberapa hari ke depan. Area koreksi terdekat berada di antara 5.889‑6.080, dengan support kuat di 5.996 dan 5.899.

Untuk jangka menengah, analis BRI Danareksa, Reza Diofanda, menilai IHSG berpotensi menembus level 6.300‑6.500 hingga akhir semester I 2026, dengan prospek jangka panjang mencapai 6.800‑7.100 pada akhir tahun 2026. Asumsi dasarnya meliputi stabilitas nilai tukar, perbaikan portofolio asing, dan tidak adanya eskalasi risiko global yang signifikan.

Secara keseluruhan, meskipun IHSG sempat mengalami penurunan tajam pada sesi pertama 3 Juni 2026, pergerakan rebound yang cepat menunjukkan adanya dukungan fundamental dari saham-saham berkapitalisasi besar. Investor disarankan tetap berhati‑hati, mengamati level support‑resistance utama, dan menyesuaikan posisi dengan volatilitas yang masih tinggi.

Dengan menggabungkan analisis teknikal dan fundamental, serta memperhatikan faktor eksternal seperti geopolitik dan nilai tukar, pelaku pasar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih terinformasi pada hari‑hari mendatang.