Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$80, AS‑Iran Capai Kemajuan, China Jadi Penentu Pasar
Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$80, AS‑Iran Capai Kemajuan, China Jadi Penentu Pasar

Harga Minyak Dunia Turun di Bawah US$80, AS‑Iran Capai Kemajuan, China Jadi Penentu Pasar

LintasWarganet.com – 23 Juni 2026 | Pada perdagangan Senin 23 Juni 2026, harga minyak dunia menutup sesi dengan penurunan signifikan setelah Amerika Serikat memberikan izin penjualan minyak mentah Iran hingga Agustus. Langkah ini menimbulkan ekspektasi pasokan tambahan ke pasar global, memicu penurunan harga Brent hingga US$77,90 per barel dan WTI turun menjadi US$74,82 per barel.

Perkembangan Harga Minyak Global

Data dari pasar spot menunjukkan bahwa kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik tipis menjadi US$78,10 per barel, sementara WTI menguat menjadi US$74,18 per barel pada perdagangan Asia berikutnya. Meskipun terjadi koreksi hampir 3% pada sesi sebelumnya, harga tetap berada di bawah ambang US$80 per barel, level yang dianggap penting oleh pelaku pasar energi.

Faktor-faktor Penurunan Harga

  • Izin penjualan minyak Iran: Kebijakan AS membuka peluang bagi Iran mengekspor minyak mentah selama 60 hari, meningkatkan ekspektasi suplai tambahan.
  • Negosiasi damai AS‑Iran: Kemajuan pembicaraan perdamaian antara kedua negara menurunkan risiko gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur strategis bagi lebih dari 11 juta barel per hari.
  • Kebijakan penurunan impor China: China mengurangi impor minyak sekitar 3 juta barel per hari dan meningkatkan cadangan strategis, menahan tekanan pada harga.
  • Kenaikan produksi energi terbarukan: Peningkatan penggunaan kendaraan listrik di China menurunkan permintaan bahan bakar fosil secara global.

Peran China dalam Menstabilkan Pasar

China, sebagai konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia, memainkan peran yang semakin terlihat dalam menyeimbangkan pasar. Negara ini telah mengisi cadangan strategis lebih dari 1 miliar barel, didukung oleh pasokan murah dari Rusia dan Iran. Selain menurunkan impor harian, China juga membatasi ekspor produk olahan seperti solar dan bensin, menjaga keseimbangan pasokan regional. Analis dari Societe Generale menilai China sebagai “tangan tak terlihat” yang menahan lonjakan harga pada saat geopolitik Timur Tengah semakin tidak menentu.

Prospek Harga Minyak ke Depan

Pasar kini menantikan dua faktor kunci: pertama, kepastian apakah perjanjian damai antara AS dan Iran akan terwujud dalam 60 hari ke depan; kedua, kebijakan energi China, terutama dalam hal cadangan strategis dan transisi ke energi bersih. Jika ekspor minyak Iran kembali mengalir secara normal, suplai global dapat meningkat signifikan, menurunkan tekanan harga lebih lanjut. Namun, potensi gangguan kembali di Selat Hormuz atau eskalasi konflik di kawasan dapat memicu volatilitas tiba‑tiba.

Secara keseluruhan, meski harga minyak berada pada level terendah dalam empat tahun terakhir, dinamika geopolitik dan kebijakan energi utama tetap menjadi penentu utama arah pasar dalam beberapa minggu mendatang.