Harga Minyak Dunia Mulai Turun, Ekonom Prediksi Pertamax Tidak Langsung Kembali Jadi Rp 12.300
Harga Minyak Dunia Mulai Turun, Ekonom Prediksi Pertamax Tidak Langsung Kembali Jadi Rp 12.300

Harga Minyak Dunia Mulai Turun, Ekonom Prediksi Pertamax Tidak Langsung Kembali Jadi Rp 12.300

LintasWarganet.com – 18 Juni 2026 | Harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan sejak awal bulan ini, dipicu oleh melonggarnya permintaan di pasar internasional dan penyesuaian produksi oleh OPEC+. Penurunan ini menurunkan indeks Brent dari sekitar US$85 per barel menjadi di bawah US$78, sementara harga West Texas Intermediate (WTI) juga turun di kisaran US$73 per barel.

Di Indonesia, penurunan harga minyak mentah belum serta-merta berimbas pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non‑subsidi, termasuk Pertamax. Mekanisme penetapan harga BBM melibatkan beberapa komponen, antara lain harga minyak mentah impor, nilai tukar rupiah, pajak, serta margin distribusi. Karena sebagian besar komponen ini bersifat kontrak jangka pendek, penyesuaian harga biasanya memerlukan waktu.

Faktor yang memperlambat penurunan harga BBM

  • Kontrak impor minyak mentah yang masih mengikat pada harga sebelumnya.
  • Fluktuasi nilai tukar rupiah yang dapat menambah biaya impor.
  • Pajak dan biaya administrasi yang ditetapkan pemerintah.
  • Margin keuntungan bagi distributor dan pengecer.

Akibatnya, meski harga minyak dunia turun, konsumen belum merasakan penurunan signifikan pada pompa bensin.

Prediksi Ekonom

Beberapa ekonom memperkirakan bahwa harga Pertamax tidak akan langsung kembali ke level Rp12.300 per liter. Mereka menilai bahwa penyesuaian harga akan dilakukan secara bertahap, mengingat kebutuhan menjaga stabilitas fiskal dan menghindari lonjakan inflasi.

Berikut perkiraan jalur penurunan harga Pertamax dalam tiga skenario:

Skenario Rentang Waktu Harga Perkiraan (Rp/liter)
Optimis 1‑2 bulan 12.500‑12.700
Moderat 3‑4 bulan 12.800‑13.000
Konservatif 5‑6 bulan 13.100‑13.300

Penurunan harga secara bertahap diperkirakan akan memberi ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan subsidi energi dan mengurangi beban anggaran, sekaligus menjaga kestabilan harga barang dan jasa lainnya.

Pengamat pasar energi menekankan pentingnya transparansi dalam penetapan harga BBM serta koordinasi antara kementerian terkait untuk mengoptimalkan manfaat penurunan harga minyak dunia bagi konsumen domestik.