Fundamental Ekonomi RI Masih Solid, tapi Mengapa Rupiah Terus Anjlok?
Fundamental Ekonomi RI Masih Solid, tapi Mengapa Rupiah Terus Anjlok?

Fundamental Ekonomi RI Masih Solid, tapi Mengapa Rupiah Terus Anjlok?

LintasWarganet.com – 12 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terus berada di zona terendah meski indikator fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan tanda-tanda ketahanan. Pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 5 % per tahun, cadangan devisa yang kuat, serta defisit neraca berjalan yang menurun menjadi bukti bahwa fondasi makroekonomi negara masih solid.

Namun tekanan eksternal dan kebijakan domestik tertentu menyebabkan mata uang lokal mengalami tekanan berkelanjutan. Berikut beberapa faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah akhir-akhir ini:

  • Sentimen risiko global: Ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter bank sentral utama, terutama Federal Reserve AS, menguatkan permintaan terhadap aset safe‑haven seperti dolar AS, sehingga mengalirkan dana keluar dari pasar emerging.
  • Kebijakan suku bunga AS: Kenaikan suku bunga The Fed meningkatkan selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan Indonesia, menarik investor asing kembali ke pasar dolar.
  • Arus keluar modal (capital outflow): Investor asing menarik kembali dana dari ekuitas dan obligasi Indonesia, terutama karena eksposur pada sektor energi dan komoditas yang mengalami penurunan harga.
  • Harga komoditas: Penurunan harga minyak mentah dan batubara mengurangi pendapatan devisa, yang berpotensi memperlemah posisi neraca perdagangan.
  • Inflasi domestik: Tekanan inflasi yang masih berada di atas target Bank Indonesia memaksa otoritas mempertahankan suku bunga acuan pada level yang relatif tinggi, yang dapat menurunkan daya beli dan menambah beban biaya produksi.
  • Kebijakan intervensi pasar: Bank Indonesia sesekali melakukan intervensi dengan menjual dolar untuk menstabilkan nilai tukar, namun intervensi tersebut tidak selalu cukup mengimbangi tekanan pasar yang kuat.

Meski demikian, prospek jangka menengah tetap positif. Cadangan devisa yang mencapai lebih dari US$130 miliar memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi bila diperlukan. Selain itu, reformasi struktural di sektor energi dan peningkatan produktivitas dapat memperkuat neraca perdagangan.

Untuk menstabilkan rupiah, diperlukan kombinasi kebijakan yang memperkuat kepercayaan investor, seperti peningkatan transparansi pasar obligasi, pengembangan instrumen hedging, serta koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal dan moneter. Selama fundamental ekonomi tetap kuat, tekanan jangka pendek pada rupiah dapat dikelola melalui langkah‑langkah tersebut.