Fed Waspada Dampak Perang AS‑Iran: Risiko Inflasi dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga Mengguncang Pasar Global
Fed Waspada Dampak Perang AS‑Iran: Risiko Inflasi dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga Mengguncang Pasar Global

Fed Waspada Dampak Perang AS‑Iran: Risiko Inflasi dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga Mengguncang Pasar Global

LintasWarganet.com – 31 Maret 2026 | Ketua Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat, Jerome Powell, menegaskan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang masih berada dalam kisaran yang dapat dikelola. Namun, dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret 2026, para pejabat Fed menyatakan keprihatinan serius atas potensi dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh konflik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel.

Konflik Timur Tengah Memicu Kekhawatiran Inflasi

Ketegangan yang meningkat di kawasan Teluk Persia, terutama setelah serangan militan Houthi terhadap Israel pada akhir Maret 2026, menambah ketidakpastian pada pasokan energi global. Iran, yang memiliki kendali signifikan atas Selat Hormuz, telah memberi izin lewatnya kapal-kapal dari enam negara, termasuk China dan Rusia, namun tetap menahan akses penuh bagi armada militer Barat. Kondisi ini menimbulkan spekulasi kenaikan harga minyak dan gas, yang pada gilirannya dapat menekan inflasi di negara-negara konsumen energi.

Powell mengakui bahwa meskipun inflasi di Amerika Serikat masih relatif terkendali, “gejolak geopolitik di Timur Tengah dapat dengan cepat memengaruhi harga energi dan menambah tekanan pada rantai pasokan global.” Ia menambahkan bahwa Fed akan terus memantau data harga komoditas dan indeks harga konsumen untuk menilai apakah tekanan inflasi akan meluas.

Strategi ‘Wait and See’ The Fed

Dalam rapat FOMC Maret 2026, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada kisaran 3,5 %–3,75 %. Keputusan ini mencerminkan pendekatan “wait and see” yang menunggu data ekonomi lebih jelas sebelum mengambil langkah penyesuaian kebijakan moneter. Para pejabat menyoroti bahwa ekspektasi pemotongan suku bunga pada tahun 2026 telah turun menjadi satu kali, dibandingkan dua kali pada awal tahun.

Namun, catatan internal menunjukkan bahwa jika konflik AS‑Iran memicu lonjakan harga energi yang signifikan, Fed siap mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut guna menahan laju inflasi. “Kami siap bertindak cepat bila data menunjukkan tekanan inflasi yang berkelanjutan,” ujar seorang pejabat senior Fed secara anonim.

Dampak pada Pasar Keuangan Global dan Domestik

Sentimen global yang dipengaruhi konflik Timur Tengah telah menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia serta pasar saham utama di Wall Street pada akhir Maret 2026. Investor mengalihkan dana ke aset safe‑haven, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang menyebabkan fluktuasi nilai tukar rupiah dan kenaikan imbal hasil obligasi negara.

Di Indonesia, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi ketidakstabilan tersebut dengan menyuntikkan likuiditas tambahan sebesar Rp 100 triliun ke sistem perbankan, khususnya ke Bank Himbara dan Bank DKI. Langkah ini bertujuan menstabilkan pasar uang domestik dan menahan lonjakan yield obligasi negara tenor 10 tahun.

Proyeksi Inflasi dan Kebijakan Moneter ke Depan

Para analis memperkirakan inflasi di Amerika Serikat dapat meningkat menjadi 2,7 % pada akhir 2026, naik dari 2,4 % sebelumnya, seiring dengan kenaikan harga energi. Jika tekanan ini berlanjut, Fed berpotensi menaikkan suku bunga acuan kembali, meski masih mengedepankan kebijakan yang hati-hati.

Di sisi lain, pasar obligasi global telah menyesuaikan ekspektasi kenaikan suku bunga dengan menambah spread risiko pada obligasi korporasi, terutama yang berkaitan dengan sektor energi dan transportasi. Investor domestik di Indonesia juga memperketat eksposur terhadap saham-saham yang sensitif terhadap harga komoditas.

Secara keseluruhan, situasi geopolitik yang belum menentu menambah beban pada kebijakan moneter The Fed. Meskipun Fed masih mengadopsi pendekatan menunggu data, sinyal kenaikan suku bunga tidak dapat dikesampingkan jika konflik memperparah tekanan inflasi.

Ke depan, pasar akan terus memperhatikan perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel, serta kebijakan energi internasional, sebagai indikator utama bagi keputusan kebijakan moneter global.