Disebut Punya Peluang Besar, Kepala BGN Minta Kampus Bangun Dapur MBG: Minimal Punya Satu Dulu

LintasWarganet.com – 30 April 2026 | Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) baru-baru ini menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peluang signifikan untuk berkontribusi dalam pengelolaan pangan dan energi berkelanjutan. Dalam sebuah pernyataan resmi, ia menekankan pentingnya pembangunan dapur Mikro Biogas (MBG) di lingkungan kampus, setidaknya satu unit, yang mengandalkan sumber pangan internal kampus.

Program dapur MBG dirancang untuk memanfaatkan limbah organik—seperti sisa makanan, daun, dan sekam—yang diolah menjadi biogas melalui proses fermentasi anaerob. Energi yang dihasilkan dapat dipakai untuk memasak, pemanas air, atau bahkan menggerakkan generator listrik kecil. Dengan demikian, kampus tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menurunkan biaya operasional energi.

Beberapa alasan utama mengapa BGN mendorong inisiatif ini antara lain:

  • Pengelolaan sampah yang lebih efisien: Mengubah limbah organik menjadi energi mengurangi beban timbunan sampah di wilayah sekitar kampus.
  • Ketahanan pangan kampus: Dapur MBG dapat mendukung produksi pupuk organik untuk kebun kampus, meningkatkan kualitas tanah dan hasil panen.
  • Penghematan biaya energi: Biogas yang dihasilkan dapat menggantikan penggunaan LPG atau listrik konvensional pada dapur kampus.
  • Pendidikan dan penelitian: Mahasiswa dapat terlibat langsung dalam riset teknologi biogas, memperkaya kurikulum teknik lingkungan, pertanian, dan ilmu pangan.

Untuk mewujudkan dapur MBG pertama, BGN menyarankan langkah-langkah berikut:

  1. Inventarisasi limbah organik yang dihasilkan oleh kantin, laboratorium, dan area hijau kampus.
  2. Mengidentifikasi lokasi yang strategis, mudah diakses, dan dekat dengan sumber limbah.
  3. Menyusun desain teknis sederhana, meliputi tangki fermentasi, sistem pemanas, dan instalasi pipa pengumpul gas.
  4. Melibatkan fakultas terkait—seperti pertanian, teknik lingkungan, dan manajemen—untuk menyusun modul pembelajaran dan penelitian.
  5. Mengajukan proposal pendanaan kepada pemerintah, donor, atau skema hibah internal kampus.

Beberapa universitas yang telah mengimplementasikan dapur MBG melaporkan penurunan volume sampah organik hingga 40 persen serta penghematan biaya energi tahunan sekitar 15 persen. Keberhasilan tersebut dijadikan contoh bagi institusi lain untuk mengadopsi model serupa.

Kepala BGN menutup pernyataannya dengan mengajak semua perguruan tinggi di Indonesia untuk menjadikan dapur MBG sebagai bagian integral dari strategi keberlanjutan kampus. Ia menekankan bahwa memiliki satu unit dapur MBG sudah cukup sebagai langkah awal, yang nantinya dapat diperluas seiring dengan peningkatan kapasitas dan pengalaman.