Bahlil Ungkap RI Kembangkan CNG Sebagai Alternatif LPG 3 kg

LintasWarganet.com – 02 Mei 2026 | JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah sedang mengintensifkan pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai solusi alternatif bagi rumah tangga yang selama ini mengandalkan LPG 3 kg. Menurutnya, inisiatif ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada LPG impor, menurunkan beban biaya energi bagi konsumen, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan pada Senin (1 Mei 2024), Bahlil menjelaskan bahwa proyek CNG akan difokuskan pada tiga zona utama: wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Sumatera Utara, yang dipilih berdasarkan tingkat konsumsi LPG tertinggi serta ketersediaan infrastruktur gas bumi.

Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain:

  • Skala produksi: Pemerintah menargetkan produksi CNG sebesar 1,5 billion standar meter kubik (sm³) per tahun pada akhir 2025.
  • Harga kompetitif: Harga CNG direncanakan berada di kisaran Rp 1.200‑1.300 per kilogram, lebih murah dibandingkan LPG 3 kg yang saat ini berkisar Rp 15.000‑16.000 per kilogram.
  • Infrastruktur: Akan dibangun 200 stasiun pengisian CNG baru, termasuk instalasi di area perkotaan, pemukiman padat, serta kawasan industri.
  • Skema subsidi: Pemerintah akan memberikan subsidi silang bagi rumah tangga berpenghasilan rendah selama tiga tahun pertama penerapan CNG.

Selain itu, Bahlil menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan regulasi khusus untuk mempermudah proses perizinan dan investasi pada sektor CNG. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Pertamina dan Perusahaan Gas Negara (PGN) akan berperan sebagai operator utama dalam penyediaan, distribusi, serta penjualan CNG.

Pengembangan CNG juga diharapkan dapat menurunkan emisi karbon dioksida (CO₂) sebesar 10 % hingga 2027, seiring berkurangnya konsumsi LPG berbasis minyak bumi. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, emisi CO₂ sektor rumah tangga pada tahun 2023 mencapai 12,5 juta ton CO₂, dan transisi ke CNG diproyeksikan mengurangi angka tersebut secara signifikan.

Proyek percobaan (pilot project) pertama akan dimulai pada kuartal ketiga 2024 di tiga wilayah pilot: Depok, Bandung, dan Medan. Pemerintah berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah enam bulan operasional untuk menyesuaikan tarif, kapasitas produksi, serta jaringan distribusi.

Para pengamat industri energi menilai langkah ini sejalan dengan agenda global untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan mempercepat transisi energi. Namun, mereka juga mengingatkan pentingnya kesiapan infrastruktur dan edukasi konsumen agar adopsi CNG dapat berjalan lancar.

Dengan mengedepankan CNG sebagai alternatif LPG 3 kg, pemerintah berharap dapat menciptakan pasar energi yang lebih kompetitif, terjangkau, serta ramah lingkungan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.