AS Sibuk Perang, China Kuasai 80 Persen Panel Surya, Jadi Penentu Energi Hijau Dunia

LintasWarganet.com – 21 April 2026 | Ketika Amerika Serikat terfokus pada konflik militer di Timur Tengah, China semakin mengokohkan posisinya sebagai penguasa utama pasar panel surya dunia. Dengan menguasai sekitar delapan puluh persen produksi global, negara Asia tersebut menjadi penentu utama transisi energi hijau di era pasca‑batu bara.

Dominasi China tidak muncul secara kebetulan. Selama satu dekade terakhir, pemerintah Beijing memberikan subsidi besar‑besar bagi pabrik‑pabrik sel surya, mempermudah akses bahan baku seperti silikon, dan mendorong standar produksi yang kompetitif. Akibatnya, biaya panel surya turun drastis, membuat teknologi ini semakin terjangkau bagi negara‑negara berkembang maupun industri energi terbarukan di seluruh dunia.

Berikut data perkiraan pangsa pasar panel surya global berdasarkan laporan industri pada tahun 2023:

Tahun Pangsa China (%) Pangsa Negara Lain (%)
2015 45 55
2018 60 40
2021 73 27
2023 80 20

Penguasaan ini membawa sejumlah implikasi strategis:

  • Ketergantungan energi bersih: Negara‑negara yang mengadopsi energi surya kini bergantung pada rantai pasok China untuk komponen kunci.
  • Pengaruh geopolitik: Kontrol atas teknologi hijau memberi China leverage dalam negosiasi perdagangan dan kebijakan iklim internasional.
  • Tekanan pada produsen lain: Amerika Serikat, Uni Eropa, dan India berupaya meningkatkan kapasitas produksi domestik untuk mengurangi vulnerabilitas.

Di sisi lain, keterlibatan AS dalam konflik militer mengalihkan perhatian dan anggaran pertahanan, mengurangi fokus pada kebijakan energi domestik. Sementara itu, kebijakan energi hijau di Amerika Serikat masih mengandalkan impor panel surya, yang dapat menimbulkan risiko keamanan pasokan jika hubungan politik memburuk.

Upaya diversifikasi sumber panel surya kini menjadi agenda utama di banyak negara. Investasi dalam fasilitas produksi di wilayah lain, seperti Vietnam, Malaysia, dan Amerika Selatan, mulai meningkat, meski belum mampu menandingi skala produksi China.

Dengan kontrol atas mayoritas produksi panel surya, China tidak hanya mempengaruhi harga dan distribusi energi terbarukan, tetapi juga menempatkan diri sebagai aktor kunci dalam agenda perubahan iklim global. Bagaimana negara-negara lain menanggapi tantangan ini akan menentukan bentuk peta geopolitik energi di dekade mendatang.