Akademisi Sebut Pelibatan Teknologi Jadi Kunci Kesuksesan Polri Tekan Risiko Kecelakaan Saat Mudik
Akademisi Sebut Pelibatan Teknologi Jadi Kunci Kesuksesan Polri Tekan Risiko Kecelakaan Saat Mudik

Akademisi Sebut Pelibatan Teknologi Jadi Kunci Kesuksesan Polri Tekan Risiko Kecelakaan Saat Mudik

LintasWarganet.com – 11 April 2026 | Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Albertus Wahyurudhanto, memandang bahwa Korlantas Polri telah menampilkan kinerja yang mengesankan dalam upaya pengamanan mudik Lebaran 2026. Menurutnya, penerapan teknologi canggih menjadi faktor utama yang memungkinkan polisi mengurangi risiko kecelakaan di jalur-jalur mudik.

Berbagai inovasi teknologi yang diintegrasikan antara lain:

  • Sistem Pengawasan Berbasis AI: Kamera pintar yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan mampu mendeteksi pelanggaran kecepatan, kendaraan melaju secara berbahaya, serta mengenali pola kemacetan secara real‑time.
  • Drone Pengintai: Unit UAV (Unmanned Aerial Vehicle) diposisikan di titik‑titik rawan untuk memantau arus lalu lintas dari udara, mempercepat respons tim darurat bila terjadi insiden.
  • Platform Data Terpadu: Semua data dari sensor jalan, kamera, dan aplikasi laporan publik digabungkan dalam satu dashboard yang dapat diakses oleh petugas lapangan dan pusat komando.
  • Aplikasi Mobile untuk Pengendara: Aplikasi resmi Korlantas memberikan informasi alternatif rute, kondisi jalan, dan peringatan cuaca buruk secara real‑time.

Dengan dukungan teknologi tersebut, Korlantas Polri mampu menurunkan angka kecelakaan dibandingkan dengan musim mudik sebelumnya. Data internal menunjukkan penurunan sebesar 18% pada kecelakaan fatal di jalur utama, sementara pelanggaran kecepatan menurun sekitar 22%.

Albertus menekankan pentingnya kolaborasi antara institusi akademik, lembaga riset, dan aparat keamanan untuk terus mengoptimalkan teknologi ini. “Penelitian kami berfokus pada pengembangan algoritma prediktif yang dapat mengantisipasi titik rawan sebelum terjadi kecelakaan,” ujar beliau.

Ia juga mengingatkan bahwa teknologi bukan satu‑satunya faktor penentu. Edukasi publik, penegakan hukum yang konsisten, dan koordinasi lintas sektoral tetap menjadi pilar utama dalam menciptakan mudik yang aman.