Ini Rahasia Agar Anak Betah Tanpa Media Sosial Menurut Ahli
Ini Rahasia Agar Anak Betah Tanpa Media Sosial Menurut Ahli

Ini Rahasia Agar Anak Betah Tanpa Media Sosial Menurut Ahli

LintasWarganet.com – 29 Maret 2026 | Pakar kebijakan publik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Tobirin, menilai bahwa pembatasan penggunaan media sosial bagi anak tidak akan efektif jika tidak didukung dengan penyediaan lingkungan yang ramah anak. Menurutnya, kunci utama agar anak tetap betah dan produktif tanpa kehadiran media sosial terletak pada penciptaan alternatif yang menarik, edukatif, dan mendukung perkembangan sosial‑emosional.

Berikut rangkuman rekomendasi Tobirin yang dapat dijadikan pedoman bagi orang tua, sekolah, dan pembuat kebijakan:

  • Menciptakan Ruang Bermain Interaktif—Sediakan area bermain yang aman dan menyenangkan, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar. Permainan tradisional, alat olahraga ringan, atau zona kreatif dengan bahan seni dapat menyalurkan energi anak secara positif.
  • Mendorong Kegiatan Outdoor—Aktivitas di luar ruangan seperti bersepeda, jalan-jalan di taman, atau kegiatan berbasis alam dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental sekaligus mengurangi keinginan anak untuk menghabiskan waktu di layar.
  • Mengintegrasikan Pembelajaran Praktis—Kursus memasak, kerajinan tangan, atau proyek sains sederhana dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan kompetensi praktis yang tidak dapat diberikan oleh media sosial.
  • Menetapkan Jadwal Harian yang Seimbang—Orang tua disarankan menyusun rutinitas harian yang mencakup waktu belajar, bermain, istirahat, dan interaksi keluarga. Konsistensi jadwal membantu anak memahami batasan penggunaan perangkat digital.
  • Memberi Contoh Digital Hygiene—Orang tua harus menjadi panutan dalam penggunaan media digital. Mengatur waktu layar pribadi dan menghindari penggunaan gadget saat bersosialisasi dapat menegaskan nilai-nilai yang diharapkan.
  • Fasilitas Edukasi di Sekolah—Sekolah dapat menambahkan klub ekstrakurikuler, perpustakaan mini, atau ruang diskusi yang menstimulasi interaksi langsung antar siswa tanpa melibatkan perangkat elektronik.

Tobirin menekankan bahwa kebijakan pembatasan media sosial harus diiringi dengan investasi pada infrastruktur sosial dan edukatif. Tanpa dukungan tersebut, anak‑anak cenderung mencari cara lain untuk mengisi kekosongan, yang pada akhirnya dapat berujung pada perilaku yang kurang produktif.

Implementasi kebijakan yang menyeluruh—menggabungkan regulasi, fasilitas ramah anak, dan edukasi orang tua—diharapkan dapat menciptakan generasi yang lebih mandiri, kreatif, dan terhindar dari dampak negatif kecanduan media sosial.