Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan 100 Bps dalam Sebulan, Tingkat ke 5,75%
Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan 100 Bps dalam Sebulan, Tingkat ke 5,75%

Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan 100 Bps dalam Sebulan, Tingkat ke 5,75%

LintasWarganet.com – 19 Juni 2026 | Bank Indonesia (BI) menambah suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) dalam rentang waktu satu bulan, membawa tingkatnya ke 5,75 persen. Kenaikan ini merupakan langkah lanjutan dari kebijakan moneter yang bertujuan menstabilkan nilai tukar Rupiah dan menahan laju inflasi yang masih berada di atas target.

Sejak akhir Mei 2026, BI telah melakukan serangkaian penyesuaian suku bunga. Pada Mei 2026, suku bunga acuan berada di level 5,25 persen. Kenaikan 50 bps pada pertengahan Juni 2026 diikuti oleh penambahan lagi 50 bps pada akhir Juni, sehingga total peningkatan mencapai 100 bps dalam sebulan.

Tanggal Suku Bunga Acuan
31 Mei 2026 5,25 %
15 Juni 2026 5,75 % (penambahan 50 bps)
30 Juni 2026 5,75 % (penambahan 50 bps)

Alasan utama di balik kebijakan ini adalah tekanan pada Rupiah yang dipicu oleh aliran modal keluar dan melemahnya permintaan ekspor. Selain itu, inflasi konsumen masih berada di atas kisaran target 2,5‑4,5 % yang ditetapkan pemerintah, sehingga BI berupaya menurunkan tekanan harga melalui kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Para analis memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga selanjutnya akan bergantung pada perkembangan nilai tukar dan data inflasi kuartalan. Jika Rupiah tetap stabil dan inflasi mulai merosot mendekati target, BI dapat mempertimbangkan untuk menahan atau bahkan menurunkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Namun, peningkatan suku bunga ini juga membawa konsekuensi bagi daya beli masyarakat. Kredit konsumen, terutama pada sektor perumahan dan otomotif, akan menjadi lebih mahal, sementara sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dapat merasakan tekanan pada biaya pembiayaan.

Secara keseluruhan, langkah BI ini mencerminkan prioritas utama pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi, meskipun berdampak pada biaya pinjaman bagi pelaku ekonomi. Dampak jangka panjangnya akan sangat tergantung pada kemampuan BI dalam menyeimbangkan antara stabilitas nilai tukar, kontrol inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.