Heran Harga TBS Sawit Bisa Turun di Tengah Menguatnya Dolar terhadap Rupiah, Mentan: ini Anomali!
Heran Harga TBS Sawit Bisa Turun di Tengah Menguatnya Dolar terhadap Rupiah, Mentan: ini Anomali!

Heran Harga TBS Sawit Bisa Turun di Tengah Menguatnya Dolar terhadap Rupiah, Mentan: ini Anomali!

LintasWarganet.com – 08 Juni 2026 | Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit mengalami penurunan meskipun dolar AS menguat terhadap rupiah dan harga Minyak Kelapa Sawit (CPO) terus naik. Penurunan ini menimbulkan kebingungan di kalangan pelaku industri dan disebut sebagai anomali oleh Menteri Pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menegaskan bahwa pada umumnya penguatan dolar akan meningkatkan biaya produksi dan menekan harga ekspor, sehingga harga TBS seharusnya naik atau setidaknya stabil. Ia meminta para pemain industri untuk segera menormalkan harga TBS demi menjaga kesejahteraan petani.

Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab penurunan harga TBS antara lain:

  • Oversupply di pasar domestik akibat panen melimpah pada akhir tahun fiskal.
  • Kebijakan penyesuaian harga oleh pedagang besar yang mencoba menstabilkan margin di tengah volatilitas nilai tukar.
  • Pengiriman logistik yang lebih efisien, sehingga biaya transportasi menurun.

Berikut data singkat perbandingan harga TBS dengan kurs dolar pada kuartal terakhir:

Bulan Harga TBS (Rp/kg) Kurs USD/IDR
Januari 1.500 14.500
Februari 1.470 14.600
Maret 1.440 14.800

Data menunjukkan penurunan harga TBS secara konsisten meski kurs dolar terus menguat. Hal ini menimbulkan risiko penurunan pendapatan petani sawit, terutama yang bergantung pada penjualan TBS sebagai sumber utama.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian berjanji akan memantau dinamika pasar dan berkoordinasi dengan Asosiasi Minyak Kelapa Sawit (AIMKS) serta asosiasi pedagang untuk menghindari dampak negatif jangka panjang. Langkah-langkah yang diusulkan meliputi penetapan harga acuan yang lebih realistis dan penyediaan bantuan teknis bagi petani dalam meningkatkan produktivitas.

Para analis ekonomi menilai bahwa anomali ini bersifat sementara, namun tetap memerlukan perhatian khusus karena dapat memengaruhi stabilitas sektor agribisnis secara keseluruhan.