IHSG Terpuruk 3,5% di Sesi I, Tekanan Jual Memicu Prediksi Turun ke 5.500
IHSG Terpuruk 3,5% di Sesi I, Tekanan Jual Memicu Prediksi Turun ke 5.500

IHSG Terpuruk 3,5% di Sesi I, Tekanan Jual Memicu Prediksi Turun ke 5.500

LintasWarganet.com – 04 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tekanan penurunan signifikan pada perdagangan sesi I Kamis, 4 Juni 2026. Indeks tercatat melemah 3,48% ke level 5.734,25, menandai penurunan terparah sejak awal tahun. Penurunan ini dipicu oleh aksi jual masif di sektor perbankan, konglomerat, dan beberapa emiten berat yang menjadi pemberat utama pasar.

Volume transaksi mencapai 22,84 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,73 triliun, sementara total frekuensi perdagangan mencatat 1.384.192 kali. Dari ratusan konstituen, 683 saham berada di zona merah, hanya 63 saham menguat, dan 62 saham stagnan. Saham-saham besar seperti PT Bank Negara Indonesia (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Central Asia (BBCA) mencatat koreksi masing‑masing sebesar 5,32%, 3,79%, dan 3,62%.

Tekanan Jual di Sektor Bank dan Konglomerat

Bank-bank jumbo menjadi penyumbang utama penurunan indeks. BBNI turun ke harga Rp 3.380 per lembar, BBRI ke Rp 2.790, dan BBCA ke Rp 5.325. Di sisi lain, saham konglomerat milik Hapsoro (BUVA) dan milik grup Bakrie (BNBR) masing‑masing meluncur 12,41% dan 9,17%, menambah beban pada indeks komposit.

Data perdagangan Mobile IDX mencatat IHSG sempat menyentuh level terendah 5.644,23 sebelum kembali naik ke kisaran 5.734,26. Rentang pergerakan harian berada di antara 5.644,23 hingga 5.924,51, menandakan volatilitas tinggi dalam sesi singkat tersebut.

Prediksi dan Level Teknis

Berbagai analis memperkirakan IHSG masih berada dalam fase koreksi wave [v] dari wave A pada struktur teknikal. Herditya dari MNC Sekuritas menekankan bahwa area koreksi berikutnya berada di antara 5.755 dan 5.814, dengan potensi penguatan terdekat di zona 5.958‑5.984. Sementara itu, Alrich Paskalis dari Phintraco Sekuritas menegaskan bahwa indeks gagal bertahan di support 5.750, sehingga risiko penurunan lebih dalam ke level 5.500 semakin nyata.

Target support kritis diperkirakan berada di area 5.899 dan 5.755, sedangkan resistance utama berada di 6.111 dan 6.286. Jika IHSG gagal menembus level resistance psikologis 6.000, para pelaku pasar diperkirakan akan menguji kembali zona 5.500, mengingat tekanan jual yang masih kuat.

Rekomendasi Saham dan Strategi Investor

Beberapa sekuritas memberikan rekomendasi di tengah ketidakpastian. BNI Sekuritas menyarankan investor untuk tetap waspada, mengingat aksi jual asing senilai Rp 864 miliar yang menargetkan saham BBCA, BBRI, TPIA, DSSA, dan ANTM. Fanny Suherman menilai bahwa kegagalan menembus 6.000 dapat memicu koreksi lanjutan menuju 5.500‑5.600.

Di sisi lain, MNC Sekuritas mengusulkan strategi “buy on weakness” untuk saham-saham dengan fundamental kuat seperti PT Adaro Energy (AADI), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Bumi Resources (BUMI). Sementara untuk perdagangan jangka pendek, sekuritas merekomendasikan posisi beli pada PT Medco Energi Internasional (MEDC) yang diprediksi mampu menahan tekanan pasar.

Laporan Pasar dan Sentimen Investor

Indeks LQ45 juga ikut turun 3,21% ke level 570,075, menandakan tekanan meluas ke indeks utama lain. Sentimen pasar tetap bearish, didorong oleh data ekonomi makro yang masih menunggu kejelasan serta aksi jual asing yang konsisten. Investor institusi dan retail diharapkan menyesuaikan eksposur mereka dengan menambah likuiditas pada level support dan memanfaatkan peluang beli pada saham yang dipandang undervalued.

Secara keseluruhan, IHSG berada pada titik krusial. Tekanan jual yang terus berlanjut, ditambah dengan kegagalan mempertahankan level support 5.750, membuka peluang penurunan lebih dalam. Namun, bagi investor yang siap menavigasi volatilitas, terdapat peluang untuk masuk pada saham-saham fundamental kuat dengan harga lebih murah.